Langsung ke konten utama

Resensi Buku Sintaksis: Memahami Satuan Kalimat Perspektif Fungsi



A.    Identitas Buku
1. Judul buku  : Sintaksis: Memahami Satuan Kalimat Perspektif Fungsi.
2. Pengarang   : Miftahul Khairah dan Sakura Ridwan.
3. Penerbit       : Bumi Aksara
4. Tahun terbit : 2014
5. Kota                        : Jakarta
6. Tebal buku  :237 halaman

B.     Resensi Buku
            Secara keseluruhan, buku ini membahas menganai ilmu bahasa, sintaksis untuk dapat memahami kalimat melalui perspektif fungsi. Ilmu bahasa mengalami perkembangan terus-menerus sesuai dengan perkembangan fenomena berbahasa masyarakat. Perkembangan ini membawa konsekuensi bagi perubahan paradigm dalam memandang hakikat bahasa. Teorisasi ilmu bahasa dapat dipetakan menjadi dua mazhab besar, yakni orientasi formalism dan fungsionalisme.Dari sudut pandang formalism, bahasa adalah seperangkat deskripsi struktural kalimat. Deskripsi ini yang kemudian menentukan keutuhan makna dari ekspresi bahasa (Valin, 2001: 320). Sedangkan dalam sudut pandang fungsionalisme, struktur ditentukan oleh fungsi bahasa dalam kehidupan manusia. 
            Pada dasarnya fungsional lahir untuk membenahi kelemahan-kelemahan yang terdapat pada aliran struktural (formalisme). Noonan (1999: 18-22) lahirnya fungsionalisme didasari oleh kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam kajian formalisme. Kelemahan-kelemahan tersebut adalah:
a.       Kajian structural hanya berkonsentrasi pada karakteristik kategori kata. Artinya keberadaan struktur ditentukan oleh karakteristik kategori yang mampu berelasi antara satu dengan lainnya.
b.      Struktural tunduk pada ciri-ciri setaip kategori. Kebenaran struktur ditentukan oleh ketepatan susunan masing-masing kategori.
c.       Struktural tidak mampu mengatasi hal-hal yang berhubungan dengan varisi bahasa, terutama variasi yang dikondisikan oleh faktor-faktor eksternal di dalam konteks pembicaraan.
d.      Struktural tidak mampu mengatasi kedinamisan bahasa.
e.       Struktural tidak mampu mengatasi problem perubahan-perubahan yang terjadi pada bahasa.
            Berdasarkan penelitian  Nichols dalam Valin (2001: 319) pendekatan fungsional terbagi menjadi fungsional ekstrim, fungsional moderat, dan fungsionalis konservatif. Fungsional ekstrim hanya menunjukkan kelemahan formalism dan structural tanpa mengajukan analisis baru. Fungsional moderat tidak hanya menunujukkan kelemahan analisis formalis dan struktural, tetapi juga mengajukan analisis fungsional terhadap struktur bahasa. Sedangkan fungsional konservatif mencoba menambahkan standar analisis dari fungsional formalis.
            Pendekatan fungsional yang paling sering digunakan dalam pembelajaran bahasa adalah fungsional moderat. Tiga teori besar dalam fungsional moderat ini dinamakan Functional Grammar (FG) yang dicetuskan oleh Simon Dik, Sistemic Functional Grammar (SFG/LSF) yang dicetuskan oleh Halliday, Role and Reference Grammar (RRG) yang dicetuskan oleh Van Valin. Dari ketiga teori yang dikemukakan, salah satu teori yang berkembang pesat adalah Systemic Functional Grammar, dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Gramatika Fungsional. Gramatika fungsional adalah sebuah teori sintaksis dan semantic yang melibatkan paradigma fungsional. Gramatika fungsional menekankan pada tiga tingkatan relasi fungisional, yaitu:
a.       Fungsi semantic.
b.      Fungsi sintaksis.
c.       Fungsi pragmatic.
            Menurut Halliday (1994: 23) gramatika fungsional digunakan untuk menjelaskan bagaimana bahasa dipergunakan. Setiap unsur dalam bahasa dijelaskan dalam rangka fungsinya dalam seluruh sistem bahasa. Dalam perpsektif linguistik fungsional, bahasa berfungsi dalam konteks sosial. Masing-masing fungsi menentukan struktur atau tata bahasa
            Valin memandang bahasa sebagai suatu sistem tindak komunikasi sosial. Oleh karena itu, analisis fungsi komunikatif struktur gramatika memainkan peranan penting dalam kajian bahasa. Struktur grammatical hanya dapat dipahami dengan mengacu pada fungsi semantic dan komunikatif. Tema yang menyatukan aneka pendekatan fungsional bahasa harus dikaji dalam hubungannya dengan peran bahasa dakam komunikasi manusia. Bahasa sebagai sebuah sistem berfungsi memyampaikan makna-makna dalam komunikasi.
            Menurut Kridalaksana (2002) fungsional bahasa adalah teori yang berusaha menjelaskan fenomena bahasa dengan segala manifestasinya Fungsional bahasa menjadi hal yang penting dam tidak dapat dipisahkan dari tujuannya berbahasa secara sadar atau tidak sadar. Bahasa memegang fungsinya secara fungsional dalam berkomunikasi.
            Konsep utama dalam fungsional adalah fungsi bahasa dan fungsi dalam bahasa. SIkan fungsionalistis diungkapkan dengan pendekatan berikut:
1.      Analisis bahasa mulai dari fungsi ke bentuk.
2.      Sudut pandang pembicara menjadi perspektif analisis.
3.      Deskripsi yang sistematis dan menyeluruh tentang hubungan antara fungsi dan bentuk.
4.      Pemahaman atas kemampuan komunikatif sebagai tujuan analisis bahasa.
5.      Perhatian yang cukup pada bidang interdisipliner sebagai sosiolinguistik.
            Di dalam buku ini, hubungan fungsional berarti hubungan ketergantungan antara fungsi unsur yang lain dalam membentuk makna. Hubungan ini dianalisis dari sudut pandang struktur bahasa yang disebut fungsi internal dan dari sudut pandang luar bahasa yang disebut sebagai fungsi eksternal. Fungsi internal meliputi fungsi semantic, fungsi sintaksis, dan fungsi pragmatic. Sedangkan fungsi eksternal adalah fungsi yang berhubungan dengan orientasi tujuan komunikasi bahasa.

KONSEP DASAR SINTAKSIS
            Istilah sintaksis berasal dari bahasa Yunani, syntaz yang berarti susunan atau tersusun bersama. Menurut Kridalaksana (1985: 6) sintaksis adalah subsistem tata bahasa mencakup kata dan satuan-satuan yang lebih besar dari kata serta hubungan antara satuan itu. Ramlan (187: 21) memberi batasan sintaksis sebagai cabang ilmu bahasa yang membicarakan seluk-beluk wacana, kalimat, klausa, dan frasa. Dapat disimpulkan sintaksis berusaha menjelaskan hubungan fungsional antara unsur-unsur dalam satuan sintaksis yang tersusun bersama dalam wujud frasa, klausa, kalimat, dan wacana.
Ada beberapa hubungan fungsional dalam satuan-satuan sintaksis. Hubungan-hubungan fungsional tersebut adalah:
a.       Hubungan fungsional antarkata dalam frasa.
b.      Hubungan fungsional antarkata/frasa dalam klausa.
c.       Hubungan fungsional antarkata/frasa dalam kalimat.
d.      Hubungan antarklausa dalam kalimat.

FRASA DAN HUBUNGAN FUNGSINYA DALAM FRASA
            Frasa adalah satuan yang membentuk kalimat. Sebagai suatu konstruksi, frasa disusun oleh beberapa unsur pembentuk yang saling berhubungan secara fungsional. Frasa yang memiliki hubungan fungsi antar unsurnya dapat dibagi menjadi frasa endosentris dan frasa eksosentris. Frasa endosentris adalah frasa yang berfungsi dan berdistribusi sama dengan salah satu anggota pembentuknya. Sedangkan frasa eksosentris adalah konstruksi frasa yang tidak berfungsi dan berdistribusi sama dengan semua unsur pembentuknya.

FRASA BERDASARKAN KATEGORI KATA YANG MENJADI UNSUR PUSATNYA
Frasa Nominal
            Frasa nominal adalah frasa yang memiliki distribusi sama dengan nomina. Inti atau pusat frasanya adalah nomina. Pewatas yang berada di depan nomina biasanya berupa numeralia dan adverbial sedangkan pewatas yang berada setelah nomina inti biasanya berupa nomina, adjektiva, verba, adverbial, numeralia, dan determinan.  Contoh frasa nominal:
·         Presiden dan DPR masih membahas rancangan Undang-Undang.
·         Pilar bangsa adalah NKRI.
Beberapa kaidah perluasan frasa nomina:
1.      Suatu inti dapat diikuti oleh satu nomina atau lebih.
2.      Suatu inti dapat diikuti oleh adjektiva, pronominal, kemudian diitutup oleh ini/itu.
3.      Suatu inti juga dapat diperluas dengan adjektiva, kata ‘yang’, pronominal pesona, lalu diakhiri dengan kata ini/itu.
4.      Suatu inti dapat diperluas dengan aposisi, yakni frasa nominal yang mempunya acuan yang sama dengan nomina inti.
5.      Nomina inti juga dapat diperluas oleh frasa presposisional.
Frasa Verval
            Frasa verbal adalah satuan sintaksis yang terbentuk dari dua kata atau lebih yang dapat menggantikan kategori verba. Verba berfungsi sebagai inti. Hubungan masing-masing unsur dalam frasa verbal:
1.      Hubungan fungsional antara adverbial sebagai pewatas depan dan verba sebagai inti, serta makna grammatical yang dihasilkan oleh hubungan tersebut.
2.      Hubungan fungsional antara verba sebagai inti dan adverbial sebagai pewatas, serta makna gramatikal yang dihasilkan oleh hubungan tersebut.
3.      Hubungan fungsional anatar verba sebagai inti dan nomina sebagai pewatas.
4.      Hubungan fungsional antara verba sebagai inti dan adjektiva sebagai pewatas.
Beberapa kaidah perluasa frasa verbal:
1.      Frasa verbal dapat diperluas dengan menambah adverbial yang berfungsi sebagai pewatas depan.
2.      Frasa verbal juga dapat diperluas dengan menambah pewatas belakang.
Frasa Adjektival
            Frasa adjectival adalah satuan sintaksis yang terbentuk dari dua kata atau lebih yang dapat menggantikan kategori adjektiva. Adjektiva berfungsi sebagai inti. Hubungan antar unsur dalam frasa adjectival dan makna gramatikalnya:
1.      Hubungan fungsional antara adverbia sebagai pewatas depan dan adjektiva sebagai inti.
2.      Hubungan fungsional antara adjektiva sebagai inti dan adverbial sebagai pewatas belakang.
3.      Hubungan fungsional antara adjektiva sebagai inti dan nomina sebagai pewatas belakang.
4.      Hubungan fungsional adjektiva sebagai inti dan adjektiva sebagai pewatas belakang.
5.      Hubungan fungsional antara adjektiva sebagai inti dan verba sebagai pewatas belakang
            Perluasa frasa adkektiva dapat diperluas dengan menambah pewatas depan maupun pewatas di belakngnya.
Frasa Numeralia
            Frasa numeralia adalah satuan sintaksis yang terbentuk dari dua kata atau lebih, yang dapat menggantikan kategori numeralia. Umumnya frasa ini dibentuk dengan menambahkan kata penggolong adverbial, atau kata gugus setelah numeralia. Frasa numeralia dapat diperluas ke kanan atau ke kiri dengan menambahkan unsur pewatas pada numeralia inti.
Contoh:
·         Hanya dua
·         Hanya dua belas
·         Hanya dua belas ribu
Frasa Pronominal
            Frasa pronominal adalah satuan sintkasis yang terbentuk dari dua kata atau lebih yang dapat menggantikan kategori pronominal. Frasa pronominal dapat diperluas ke kanan atau ke kiri dengan menambahkan unsur-unsur pewatas pada pronominal inti. Contoh:
·         Kamu
·         Kamu berempat
·         Hanya kamu berempat
Frasa Adverbial
            Frasa adverbial adalah satuan sintaksis yang terbentuk dari dua kata atau lebih dengan adverbial yang berfungsei sebagai inti dann nomina, demonstrative, atau adverbial yang berfungsi sebagai pewatas. Perluasan frasa adverbial dapat dilakukan dengan diperluas ke kanan dan menambahkan unsur-unsur pewatas adverbial inti. Contoh:
·         Sekarang
·         Sekarang ini
·         Sekarang ini saja
Frasa Preposisional
            Frasa preposisional adalah frasa eksosentris, tidak terdiri atas inti dan pewatas, tetapi terdiri atas perangkai dan sumbu. Preposisi berfungsi sebagai perangkai, sedangkan jenis kata yang berfungsi sebagai sumbu adalah nomina. Frasa preposisional dapat diperluas ke kanan dengan enambahkan unsur-unsur sumbu pada preposisi yang berfungsi sebagai perangkai. Contoh:
·         Di atas
·         DI atas lemari
·         Di atas lemari baju

KLAUSA
            Klausa adalah satuan sintaksis yang terdiri atas dua kata atau lebih yang mengandung unsur predikasi atau tersusun atas predicator dan argumen, belum disertai oleh intonasi akhir pada ragam lisan atau tanda baca pada ragam tuisan. Klausa harus mengandung suatu peristiwa yang mengacu pada perbuatan atau proses. Klausa juga berpotensi menjadi kalimat jika disertai oleh intonasi akhir pada ragam lisan atau dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca pada ragam tulisan. Fungsi yang menandai hubungan antarunsur dalam klausa dapat dipahami melalui tiga tataran, yaitu fungsi semantik, fungsi sintaksis, fungsi pragmatic. Ketiga fungsi ini disebut fungsi internal klausa atau fungsi internal kalimat.

FUNGSI SEMANTIK KLAUSA
            Fungsi semantic adalah relasi antara predikat dengan argumennya dalam satu klausa. Struktur logika semantic verba:
1.      Verba yang menyatakan perbuatan atau tindakan.
2.      Verba yang menyatakan proses, yaitu perubahan dari suatu keadaan ke keadaan lain.
3.      Verba yang menyatakan keadaan. Contoh: Anak itu sukapisang.
4.      Verba yang menyatakan pengalaman. Contoh: merekamendengar suara itu.
5.      Verba rasional, yakni verba yang menghubungkan antara berbagai argument dalam struktur klausa. Contoh: diaadalah adik kandung saya.
6.      Verba yang menyatakan “adanya” sesuatu. Contoh: adapolemik dalam tubuh partai itu.
7.      Verba semelfaktif adalah verba yang mengacu pada peristiwa-peristiwa yang keberadaannya tergantung pada durasi singkat.
Peran semantik terdiri atas peran semantic khusus dan peran semantic makro.
·         Peran semantic khusus à peran yang berhubungan dengan posisi argument yang terdapat pada struktur logika predikator.
ü  Peran semantic predicator: perbuatan, proses, keadaan, pengalaman, dll.
ü  Peran semantic argument: pelaku, sasaran , hasil, pengalaman, peruntungan, jangkauan, dll.
ü  Peran semantic perifral: tempat, waktu, asal, alat, penyerta, dll.
·         Peran semantic mikro
Peran semantik makro à peran yang bersifat umum. Ada dua peran semantic makro: aktor dan undergoer.

FUNGSI SINTAKSIS
Fungsi sintaksis berhubungan dengan relasi grammatical suatu klausa. Fungsi sintaksis meliputi Subjek, Predikat, Objek, Pelengkap, dan Keterangan.

FUNGSI PRAGMATIK
Fungsi pragmatik  menandai status informasi dari sebuah konstituen. Beberapa hal yang terkait dengan status informasi adalah:
1.      Informasi baru dan informasi lama à merupakan informasi yang sudah diketahui bersama, sedangkan informasi baru merupakan pengembangan informasi yang ditambahkan pada informasi lama.
2.      Fokus dan latar à unsur klausa yang mengandung informasi paling penting, sedangkan latar adalah unsur klausa yang hadir setelah fokus.

            Masih banyak hal lagi yang dapat diperoleh dengan membaca buku ini, diantaranya adalah jenis dan perluasan kalimat berdasarkan fungsinya masing-masing. Buku ini sangat layak untuk dibaca dan direkomendasikan bagi para pembaca yang ingin mempelajari sintaksis khususnya. Beberapa kelebihan yang dimiliki buku ini adalah:
ü  Setiap sub bahasan disertai dengan contoh sehingga pembaca dapat memahami lebih dalam
ü  Ada latihan-latihan untuk menguiji pemahaman pembaca.
ü  Penggunaan bahasa yang tidak terlalu rumit sehingga mudah dipahami.
ü  Serta deskripsi pembelajaran, kompetensi, dan indikator pencapaian yang ada di setiap bab membantu pembaca memahami kompetensi apa yang akan diraih setelah membaca buku ini.

Selamat Membaca!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penerapan TIK Dalam Pendidikan Jarak Jauh

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Dalam masyarakat berbasis pengetahuan, peranan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat dominan. Masyarakat Indonesia yang indeks teknologinya masih rendah belum secara optimal memanfaatkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) sebagai penggerak utama perubahan masyarakat. Pendidikan memfasilitasi peningkatan indeks teknologi tersebut. Oleh karena itu, peranan teknologi, informasi, dan komunikasi untuk pendidikan (TIK) menjadi sangat penting. Dalam era informasi dewasa ini, TIK telah menjadi faktor sekaligus indikator penentu kemajuan peradaban suatu bangsa. Hampir tidak ada dimensi peradaban kehidupan manusia dewasa ini yang tidak ditopang oleh TIK. Bahkan, daya saing suatu bangsa ditentukan oleh seberapa besar kemampuan dalam menguasai dan memanfaatkan TIK untuk berbagai sektor kehidupan, termasuk sektor pendidikan. Pendidikan dalam hal ini mengacu kepada sistem pendidikan berbasis TIK. Sistem pendidikan berbasis TIK atau yang dikena...

PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PEMBELAJARAN

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Disadari atau tidak, ada banyak perubahan pesat yang terjadi di sekitar kita akhir-akhir ini. Dalam dunia anak misalnya. Pada tahun 90 an, banyak anak yang menghabiskan waktunya untuk bermain bersama dengan teman-temannya bersama di sore hari. Namun seiring dengan berjalannya waktu, pada era millennia, banyak anak yang lebih suka berdiam diri saja di rumah dan bermain menggunakan gadget mereka. Permainan menggunakan gadget terasa lebih menarik dan menyenangkan daripada menghabiskan waktu bermain dan berinteraksi dengan sesama. Sehingga interaksi yang diperoleh oleh anak bukan lagi menjadi dua arah namun menjadi satu arah saja. Bukan hanya melanda anak-anak. Jika kita berjalan ke pusat perbelanjaan atau restaurant, kita akan banyak melihat orang yang menunduk dan asik dengan gadget mereka. Tak hanya itu saja, jika ditinjau lebih jauh, sudah banyak toko yang gulung tikar dan beralih memanfaatkan teknologi, berjualan online. Rupanya k...