Langsung ke konten utama

HEGEMONI SOSIAL DAN IDEOLOGI DALAM NOVEL THE YEARS OF THE VOICELESS KARYA OKKY MADASARI SERTA IMPLIKASINYA DALAM PELAJARAN MEMBACA DI SMA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Novel merupakan salah satu ragam karya sastra yang digemari oleh banyak kalangan, mulai dari yang muda hingga tua, tanpa memandang suku, agama, dan golongan manapun. Melintasi rentang ruang dan waktu, menjalin banyak kisah dan peristiwa baik masa kini dan masa lampau, membawa pembaca hanyut ke dalam dunia yang berbeda, novel mampu menyingkapi banyak hal di masa kini, masa sekarang, maupun imajinasi mengenai masa depan. Bukan hanya bercerita mengenai sejarah, namun juga dapat membawa pembaca ke dalam berbagai aspek kehidupan seperti politik, budaya, sosiologi, maupun aspek lainnya.
Novel juga menjadi salah satu karya sastra yang sangat menarik karena melalui sebuah novel penulis dapat menyampaikan gagasannya kepada pembaca. Melalui novel, pengarang dapat menyampaikan hal-hal atau nilai-nilai yang tidak mudah untuk disampaikan dengan lantang, namun hal tersebut dapat disampaikan dengan cara yang berbeda dalam novel. Selain ide dan gagasan pengarang, novel juga mampu menggambarkan bagaimana hubungan antara pengarang dengan kehidupan pribadinya maupun dengan lingkungan sosialnya. Melalui untaian kata-kata yang dituang dalam sebuah novel, dengan metode tertentu dapat mengungkapkan fakta yang terjadi dalam dunia yang sebenernya. Oleh sebab itu karya sastra, yang diwakilkan oleh novel saat ini, tidak dapat dianggap hanya sebagai tulisan yang bertujuan untuk menghibur semata. Ada banyak ide atau gagasan, ada banyak fakta dalam kehidupan, ada banyak pesan yang dapat diungkapkan oleh pengarang melalui karyanya.
Penelitian sosiologi sastra adalah salah salah satu tools yang dapat digunakan untuk menyingkapi kehidupan sosial yang ada dalam sebuah novel, baik kehidupan sosial pengarang maupun kehidupan sosial yang terjadi pada masanya. Menurut Endraswara[1], Karya sastra yang berhasil atau sukses yaitu yang mampu merefleksikan zamannya. Oleh sebab itu penelitian sastra melalui pendekatan sosial diharapkan mampu mengungkapkan kehidupan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Hal tersebut yang juga coba diungkapkan oleh Okky Madasari melalui novelnya yang berjudul The Years of The Voiceless.
The Years of The Voiceless merupakan novel yang memiliki setting pada masa orde baru tahun 1950-1994. Novel ini menceritakan kisah kehidupan dua orang perempuan Sumarni, yang biasa dipanggil Marni dan anaknya, Rahayu. Marni adalah seorang perempuan pemuja leluhur (animisme) yang ulet untuk meraih apa yang diinginkannya. Marni dan Rahayu adalah dua orang yang hidup sebagai seorang yang miskin, sehingga untuk meraih apa yang diinginkannya mereka harus melakukan berbagai macam cara termasuk menikah. Kehidupan mereka yang lekat dengan kehidupan pasar juga menjadikan mereka sering ditindas oleh kaum yang lebih berkuasa. Menjadi menarik ketika kelamaan mereka bisa memperoleh kehidupan yang lebih baik.
Secara umum, hegemoni dianggap sebagai suatu dominasi kekuasaan suatu kelas sosial atas kelas sosial lainnya, melalui kepemimpinan intelektual dan moral yang dibantu dengan dominasi atau penindasan Kaun yang lebih berkuasa, yang sering disebut sebagai kelompok mayoritas cenderung mengidentifikasikan dan menilai kaum yang lemah atau minoritas berdasarkan ciri fisik, pekerjaan, maupun golongan. Sehingga perlakuan yang diberikan pun berbeda.
Ideologi dalam kajian kesusasteraan adalah sebuah fakta tercitranya obyek tertentu sebagai sebuah bentuk yang diyakini eksistensinya dalam kehidupan sehari-hari. Ideologi adalah nilai atau gagasan yang yang berusaha ditanamkan kepada kelompok tertentu sehingga melalui nilai tersebut menjadi nilai yang diyakini dalam diri dan dilakukan sebagai hal normal dan wajar untuk dilakukan.
Hegemoni yang dialami oleh Rahayu dan Marni serta ideologi yang ditanamkan oleh kaum yang lebih berkuasa kepada mereka yang lebih lemah menjadi sebuah hal yang menarik untuk diteliti lebih lanjut. Pasalnya hal tersebut juga pernah juga dialami bukan hanya Rahayu dan Manri, namun juga pernah dialami oleh masyarakat Indonesia. Dengan penggunaan gaya Bahasa yang sederhana dam mudah dipahami oleh berbagai kalangan, Okky Madasari mencoba menghantarkan pembaca masuk ke era orde baru dan merefleksikan kejadian yang pernah terjadi melalui rangkaian dan peristiwa yang terjadi dalam cerita.
Ilmu tidak akan berguna jika tidak digunakan atau diimplementasikan dalam kehidupan. Oleh sebab itu melalui penelitian yang akan dilakukan diharapkan mampu dapat diimplementasikan dalam pembelajaran yang ada di SMA dengan mengkaji unsur-unsur yang terdapat dalam novel.
Untuk dapat menyelesaikan penelitian ini, peneliti menggunakan Teknologi, Informatika dan Komunikasi (TIK) dalam meneliti. Sejak perkembangan TIK mempermudah dalam melakukan segala kehidupan manusia, TIK juga dapat mempermudah peneliti dalam melakukan penelitian ini. Diharapkan dengan pemanfaatan TIK, peneliti dapat berbagi sumber ide dan kajian budaya serta mengaikatnya dengan kajian sosial masyarakat. Selain itu pemanfaatan yang juga dapat dimanfaatkan oleh peneliti adalah penggunaan komputer dalam menulis penelitian dan komputer serta pemanfaatan kamus elektronik dalam mencari makna cerita.
Pemanfaatan komputer serta kamus elektronik dapat digunakan karena novel yang akan diteliti oleh peneliti dan dibaca oleh siswa adalah novel dalam bahasa asing, sehingga akan mempersulit siswa dalam mencari ide dan makna dalam bacaan jika bahasa yang digunakan bukanlah bahasa sehari-hari siswa. Oleh sebab itu untuk menejrmahkan kata-kata sulit yang tidak dimengerti oleh siswa, siswa dapat menggunakan perangkat komputer atau kamus elektronik lainnya.

1.2  Fokus dan Subfokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, maka fokus penelitian ini adalah pendeksripsian hegemoni sosial dan ideologi yang terdapat dalam masyarakat serta implikasinya dalam pembelajaran SMA pada novel The Years of The Voiceless karya Okky Madasari. Dari fokus yang akan diteliti, maka novel tersebut akan dielaborasi menjadi beberapa sub penelitian:
1.      Unsur intrinsik dalam novel The Years of The Voiceless karya Okky Madasari, yang terdiri dari alur, penokohan, latar dan tema dalam novel.
2.      Unsur ekstrinsik dalam novel yaitu biografi pengarang (status sosial, budaya, dan latar belakang kehidupan dalam keluarga yang mempengaruhi pengarang dalam menulis novel)
3.      Penyebab terjadinya hegemoni sosial dalam masyarakat
4.      Tradisi, kebiasaan, dan norma yang ada dalam masyarakat
5.      Faktor pendukun pembentuk ideologi dalam masyarakat
6.      Dampak yang ditimbulkan akibat hegemoni sosial dan ideologi dalam masyarakat
7.      Pembelajaran karya sastra di SMA

1.3  Perumusan Masalah
Untuk mendapatkan hasil penelitian yang terarah dan sesuai dengan latar belakang, maka diperlukan suatu perumusan masalah yang menjadi fokus dalam penelitian ini. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1.      Bagaimana unsur-unsur yang terdapat dalam novel The Years of The Voiceless karya Okky Madasari?
2.      Bagaimana hegemoni sosial yang terdapat dalam novel The Years of The Voiceless karya Okky Madasari dengan pendekatan sosiologi sastra?
3.      Apa ideologi yang timbul dalam masyarakat yang terbentuk dalam novel The Years of The Voiceless karya Okky Madasari?
4.      Bagaimana implikasi hasil penelitian ini dalam pembelajaran di SMA?

1.4  Tujuan Penelitian
Penelitian yang baik adalah penelitian yang memiliki tujuan. Tujuan penelitian ini adalah:
1.      Mendeskripsikan unsur-unsur yang terdapat dalam novel The Years of The Voiceless karya Okky Madasari.
2.      Mengungkapkan hegemoni sosial yang terdapat dalam novel The Years of The Voiceless karya Okky Madasari dengan pendekatan sosiologi sastra.
3.      Mengungkapkan ideologi masyarakat yang terbentuk dalam novel The Years of The Voiceless karya Okky Madasari.
4.      Mengungkapkan implikasi hasil penelitian ini terhadap pembelajaran di SMA.

1.5  Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi kegunaan, baik teoritis maupun praktis. Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah:
1.      Menambah kajian dalam bidang sastra khususnya yang terkait dengan sosiologi sastra, yaitu hegemoni sosial dan ideologi dalam masyarakat.
2.      Memperluas pemahaman dari sosiologi sastra terutama dalam pengembangan studi hegemoni sosial dan ideologi yang terdapat dalam kehidupan masyarakat.
3.      Memberikan penggambaran serta pengetahuan mengenai hegemoni sosial dan ideologi yang terdapat dalam kehidupan masyarakat.
Adapun manfaat praktis yaitu nilai guna bagi kehidupan dan pengajaran sastra adalah:
1.      Pemanfaatan novel The Years of The Voiceless sebagai bahan ajar pelajaran membaca di SMA yang berpedoman pada nilai pendidikan yang terkandung dalam novel (aspek Bahasa, kajian sscial, ideologi amsyarakat, agama, etika, dsb)
2.      Bagi para pembaca dan penikmat sastra dapat memahami dinamika yang terjdi dalam kehidupan masyarakat yang diungkapkan pengarang melalui karya sastranya.
3.      Bagi mahasiswa sastra, hasil penelitian ini berguna sebagai sarana edukasi bagi pembelajar memahami interaksi atau hubungan sosial dalam kehidupan


BAB II
LANDASAN TEORI

Bab ini memberikan dengan rinci beragam teori yang menjadi acuan dalam menganalisa novel The Years of The Voiceless karya Okky Madasari. Beberapa pemaparan dari pakar kesusasteraan, pakar sosiologi sastra, dan pakar kajian budaya akan menjadi kesatuan yang saling melengkapi dalam analisis kritis sebuah karya sastra yang akan dibahas dalam penelitian ini.
Sesuai dengan tujuan penelitian, maka acuan teoritik yang digunakan tetap berfokus pada unsur intrinsik sastra bersama dengan unsur ekstrinsik sastra dengan pendekatan sosiologi sastra yang merupakan bagian teori kajian budaya.

2.1 Hakikat Sastra
            Istilah sastra merupakan kata serapan dari Bahasa Sansekerta, yang berarti teks yang mengandung instruksi atau pedoman. Secara etimologis, sastra sendiri diartikan sebagai alat untuk mengajar, buku petunjuk, taupun buku petunjuk pengajaran.Dalam Bahasa Indonesia, dirujuk pada kata kesusastraan atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sastra adalah 1) Bahasa berupa kata-kata atau gaya Bahasa yang dipakai dalam kitab-kitab. 2) Karya tulis yang memilki ciri khas dalam hal keaslian, nilai artistic dan keindahan pada isinya. Dapat dikatakan bahwa sastra adalah tulisan atau karya tulis yang memiliki keindahan dalam isinya.
            Dalam sastra hasil pemikiran, gagasan, maupun pengalaman batin pengarang yang dapat dicurahkan lewat tulisan. Selain itu melalui karya sastra dapat digambarkan zaman dan peristiwa yang telah terjadi atau peristiwa yang terjadi pada zaman itu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa melalui karya sastra, bukan hanya unsur keindahan saja yang dapat dinikmati dan diamati, tetapi juga dapat merepresentasikan pengarang dan cerminan kondisi masyarakat. Oleh sebab itu sastra tidak dapat dianggap sebagai hal remeh dalam masyarakat.
            Sastra bertujuan untuk mengembangkan rasa kepekaan dan intuisi manusia terhadap hal-hal indrawi, akal, sosial, religi dan kebudayaan. Sastra menggunakan bahasa sebagai unsur utama dalam pengantarnya agar dapat diterima dengan baik dalam masyarakat. Bahasa yang digunakan pun adalah pola-pola verbal yang konstruktif dan efektif dalam mentransfer pesan, emosi atapun informasi.

2.2 Hakikat Sosiologi Sastra
            Pada hakikatnya sastra dapat meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, oleh sebab itu penelitian sastra dapat mencakup ekonomi, politik, budaya, maupun sosial. Sastra dan sosiologi memiliki objek yang sama yaitu manusia dan masyarakat. Karya sastra menerima pengaruh dari masyarakat dan sekaligus mampu mempengaruhi masyarakat. Sosiologi dianggap dapat memberi penjelasan yang bermanfaat tentang sastra sehingga pemaknaan sastra tanpa sosiologi belom dianggap lengkap.
Sosiologi sastra merupakan pendekatan tehadap sastra yang mempertimbangkan segi kemasyarakatan. Sebuah karya sastra dianggap cukup reflektif untuk mencerminkan kehidupan masyarakat.  Menurut Ahmad Bahtiar, sastra merupakan sebuah refleksi lingkungan sosial budaya yang merupakan suatu tes dialektika antara pengarang dengan situasi sosial yang membentuk atau memperjelasan suatu sejarah dialektika yang dikembangkan dalam karya sastra.
            Pada dasarnya, penelitian sosiologi sastra lebih banyak memperbincangkan hubungan antara pengarang dengan kehidupan sosialnya dan tidak menutup kemungkinan jika sosiologi sastra juga mampu menyingkapi fakta-fakta sosial yang sedang terjadi dalam masyarakat. Menurut Endraswara, Karya sastra yang berhasil atau sukses yaitu yang mampu merefleksikan zamannya.
Menurut Welek dan Warren (dalam Damono)[2], sosiologi sastra dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian besar, yaitu:
·         Sosiologi pengarang, mempermasalahkan mengenai status sosial, ideology politik, dan lain-lain yang menyangkut diri pengarang.
·         Sosiologi karya sastra, mempermasalahkan karya sastra yang menjadi pokok telaah. Makna tersirat di dalamnya, tujuan atau amanat yang ingin disampaikan.
·         Sosiologi satra, mempermasalahkan tentang pembaca dan pengaruh sosialnya terhadap masyarakat.
Menurut Ian Watt (Dalam Sapardi)[3] menjelaskan, sasaran sosiologi sastra mencakup:
·         Konteks sosial pengarang, menyangkut posisi dan kondisi sosial masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat pembaca, termasuk di dalamnya faktor-faktor konteks sosial pengarang, menyangkut posisi dan kondisi sosial masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat pembaca, termasuk di dalamnya faktor-faktor sosial yang bisa mempengaruhi si pengarang sebagai perseorangan disamping bisa mempengaruhi isi karyanya.
·         Sastra sebagai cerminan masyarakat, sejauh mana sastra dianggap pencerminan keadaan masyarakat.
·         Fungsi sosial sastra, berapa jauh nilai sastra berkaitan dengan nilai sosial dan sampai  mana sastra berfungsi sebagai alat penghibur sekaligus sebagai pendidik bagi msyarakat pembaca.
Hal penting dalam sosiologi sastra adalah konsep cermin (mirror). Dimana karya sastra dianggap sebagai memesis (tiruan) masyarakat. Meskipun demikian karya sastra tidak lah menyodorkan data secara mentah atau copy kenyataan, namun merupakan ilusi atau khayalan kenyataan. Kenyataan tersebut bukanlah jiplakan kasar melainkan sebuah refleksi halus dan estetis yang mengandung makna.
Menurt Endraswara[4], sosiologi sastra dapat meneliti sekurang-kurangnya nelalui tiga perspektif yaitu oersoektif teks sastra, penelti menganalisis sebagai sebuag refleksi kehidupan masyaraakt Kedua, perspektif biografis, peneliti menganalisis pengarang. Bagaimana hubungan pengarang dengan latar belakang sosialnya. Ketiga, prespektif reseptof, peneliti menganalisis oenerimaan masyarakat terjadap teks sastra.
Menurut Watt dalam Damono[5], ada tiga hal yang perlu diungkap hubungan antara nilai sosial dan nilai sastra dalam penelitian sosial sastra:
·         Sudut pandang kaum romantic yang menganggap sastra sama derajatnya dengan karya pendeta atau nabi, sehingga sastra berfungsi sebagai pembaharu atau perombak.
·         Karya sastra bertugas sebagai penghibur belaka.
·         Semacam kompromi dapat dicapai dengan meminjam slogan klasik sastra yaitu harus mengajarkan sesuatu dengan menghibur.

2.3 Hakikat Novel
            Ada banyak bentuk ragam karya sastra yang diminti masyarakat seperti pantun, puisi, cerita pendek, cerita penjang, novel, dan sebagainya. Diantara seluruh karya sastra yang ada, novel ada salah satu ragam karya sastra yang paling diminati masyarakat dan dapat dinikmati dari segala usia dan kalangan. Novel biasanya secara rinci menuangkan sebuah cerita atau gagasan pengarang bahkan ada juga yang memberikan sebuah ideologi baru bagi pembacanya.
Secara etimologi, novel berasal dari Bahasa Perancis yaitu Nouvelle yang berarti cerita berbentuk prosa pendek yang biasanya melukiskan cinta terlarang, penipuan, petualangan sensasional, heroism, bahkan tentang degradasi moral. Pengertian lain, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, novel adalah karangan prosa Panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang disekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelakunya.
            Kennedy[6] membagi jenis novel menjadi tiga bagian. Pertama, novel epistolari (epistolary novel) adalah novel yang berisikan surat-surat yang hanya terdidi dari satu tokoh saja, dan juga berupa kumpulan surat-surat yang terdiri dari beberapa karakter. Contohnya adalah The Color Purple karya Alice Walker (1928). Kedua, non fiksi (nonfiction novel) adalah novel yang berisikan kejadian dan penokohan yang sesungguhnya dalam bentuk cerita. Contohnya adalah novel karya Truman Capote yang berjudul In Cold Blood (1966). Ketiga, novel sejarah (historical novel) adalah novel yang merekonstruksi detail mengenai kehidupan di masa lain atau mungkin juga di tempat lain. Contohnya adalah novel Patrisia Roma karya Robert Graves.
            Setiap karya sastra pasti memiliki unsur-unsur terkandung di dalamnya. Novel juga memiliki unsur pembentuknya. Unsur-unsur itu disebut unsur intrinsic dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsic adalah unsur yang terdapat dalam tubuh novel itu sendiri sedangkan unsur eksrinsik adalah unsur  yang terdapat dari luar novel. Unsur ekstrinsik bisa dipengaruhi oleh ide atau latar belakang pengarang, lingkungan masyarakat sekitar, atau factor-faktor lainnya yang berasal bukan dari novel itu namun memiliki pengaruh terhadap novel.
            Menurut Taylor[7] ada tiga unsur konseptual dalam novel yaitu tindakan, yang berupa peristiwa dan urutan kejadian (action), watak yang berupa motivasi atau reaksi yang ditimbulkan oleh tokoh, (character) dan referensi tempat atau waktu (setting).

Struktur Novel
            Dalam novel kita mengenal lima elemen besar yang menjadi unsur intrinsic novel, yaitu tokoh dan penokohan (character and characterization), alur (plot), tema (theme), latar (setting), dan sudut pandang (point of view). Kelima elemen tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
a.       Tokoh Dan Penokohan (Character and Characterization)
Tokoh umunya diartikan sebagai seseorang yang terlibat dalam sebuah cerita sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia penokohan adalah penciptaan citra tokoh dalam sebuah karya sastra. Tokoh memegang peranan utama dan sangat penting dalam sebuah novel karena tokoh dapat mengikat seluruh unsur-unsur yang terdapat dalam novel. Tanpa kehadiran para tokoh, makan novel tidak dapat dikatakan sebagai sebuah karya sastra yang utuh.
E.M Foster (dalam Kennedy)[8] membagi tokoh menjadi dua jenis, yaitu tokoh bulat (round character) dan tokoh pipih (flat character). Perbedaan keduanya terdapat pada kemampuan tokoh untuk berubah, belajar dari pengalaman, dan menyesuaikan diri dengan keadaan. Tokoh bulat mampu mengadaptasi dirinya dengan baik, sedangkan tokoh pipih tidak mengalami perubahan sama sekali dari awal hingga akgir cerita.
Selain itu berdasarkan perannya dalam sebuah karya sastra, tokoh dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu tokoh utama dan tokoh pendukung. Tokoh utama adalah tokoh yang memegang peranan paling penting dan menjadi pusat dari cerita sedangkan tokoh pendukung adalah tokoh-tokoh tambahan atau penunjang dalam sebuah karya sastra.
Menurut Tarigan (dalam Susanto) [9]ada enam cara melukiskan penokohan salam sebuah karya sastra:
a)      Physical description
Melukiskan bentuk lahir dari tokoh.
b)      Portrayal of thought stream or of conscious thought
Melukiskan jalan pikiran tokoh atau apa saja yang terlintas dalam pikirannya.
c)      Reaction to events
Melukiskan bagaimana reaksi tokoh terhadap kejadian-kejadian yang terjadi.
d)      Direct author analysis
Pengarang menganalisis langsung watak tokoh.
e)      Discussion of environment
Pengarang melukiskan keadaan sekitar tokoh.
f)        Reaction of others about/charater
Pengaang melukiskan bagaimana pandangan-pandangan tokoh lain terhadap tokoh utama tersebut.
b.      Alur
Selain tokoh dan penokohan, elemen lainnya yang memegang peranan paling penting adalah alur (plot). Alur sering juga disebut sebagau jalan cerita karena mengandung semua kejadian-kejadian yang terjadi dari awal hingga akhir cerita. Umumnya alur dibagi menjadi tiga kategori yaitu alur maju, alur mundur, dan alur campuran. Alur maju/progresif adalah urutan kronologis cerita yang bersesinambungan dari tahap pengenalan sampai penyelesaian. Alur mundur adalah tahapan alur cerita yang diawali dari penyelesaian kemudian kembali ke awal mula cerita. Alur campuran adalah gabungan dari alur maju dan mundur. Penulis menyajikan cerita kronologis kemudian menceritakan kembali masa lalu (flash back) dan kembali ke masa kini. Oleh karena itu dubutuhkan kecermatan dan ketelitian dalam meneliti alur campuran.
Ada empat tahapan yang biasanya ada dalam alur sebuah karya sastra:
1)      Orientasi
Tahap ini merupakan masa pengenalam tokoh kepada pembaca. Oleh sebab itu biasanya orientasi terdapat di awal cerita karena bertujuan memperkenalkan tokoh kepada pembaca.
2)      Menuju konflik
Pada tahap ini tokoh mulai memasuki area permasalahan kecil yang akan menghantarkannya kepada masalah besar atau klimaks dalam cerita. Biasanya dalam tahap ini pembaca sudah dapat menerka apa yang akan menjadi klimaksnya.
3)      Klimaks/konflik
Pada tahap ini penulis menghadirkan masalah yang sesungguhnya kepada pembaca dan biasanya menjadi inti dalam cerita.
4)      Resolusi
Resolusi merupakan tahap penyelesaian dimana tokoh dapat menyelesaikan seluruh permasalahannya. Tahap ini biasanya merupakan akhir dari sebuah cerita.
Pada kebanyakan novel keempat tahapan ini biasanya muncul secara berurutan, namun hal itu tidak dapat dijadikan patokan akan terjadi pada seluruh novel. Terutama pada novel yang memiliki alur campuran, keempat tahapan ini bisa saja berubah-ubah. Namun yang pasti, dalam setiap setiap novel pasti terdapat keempat tahapan tersebut.
c.       Tema
Tema adalah pokok pikiran dalam sebuah cerita yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca melalui seluruh rangkaian cerita. Tema dapat juga disebut sebagai gagasan atau amanat utama yang menjalin seluruh struktur isi karangan. Tema merupakan ide utama yang terdapat pada sebuah cerita.
d.      Latar
Latar atau setting adalah keterangan petunjuk dan pengacuan yang berkaitan dengan ruang dan waktu dalam cerita. Pada umumnya latar atau settimg terdiri dari:
ü  Waktu yaitu kapan peristiwa tersebut terjadi.
ü  Tempat yaitu dimana peristiwa tersebut berlokasi.
ü  Budaya yaitu tradisi atau adat yang digunakan dalam cerita.
ü  Suasana yaitu suasana atau situasi dan kondisi yang melingkupi dalam novel.
ü  Latar belakang dan kepribadian yang melatarbelakangi perilaku tokoh.

e.       Sudut Pandang
Sudut pandang adalah cara pandang pengarang dalam mengungkapkan cerita. Sudut pandanng pengarang dapat dikategorikan ke dalam tiga bagian. Pertama, sudut pandang orang pertama, pelaku utama. Pengarang menggunakan pelaku utama sebagai orang pertama dalam cerita tersebut, sehingga penulis menggunakan kata aku atau saya dalam cerita. Kedua, sudut pandang orang ketiga. Pengarang menggunakan  pelaku utama sebagai orang ketiga, sehingga penulis menggunakan kata ganti orang ketiga, seperti dia, ia, atau nama orang tertentu. Ketiga, sudut pandang serba tahu. Pengarang seolah-olah tau banyak hal dalam cerita tersebut. Pengarang dapat mengemukakan segala tingkah laku sebebas-bebasnya sebagai tokoh utama.

2.4 Hakikat Ideologi
            Ideologi pertama kali diperkenalkan oleh Destutt de Tracy seorang filsuf dari Perancis. Menurut Tracy, ideologi adalah ide, kebenaran atau kesalahan, bekerja dengan teori kritis yang berproses dalam pikiran manusia. Menurutnya secara kategorial ideologi menjelajahi wilayah keyakinan, nilai-nilai dan konsep ideal mengenai pemahaman cara kerja dunia serta bagaimana manusia merespon orang lain dan lingkungannya, membedakan mana yang baik dan benar serta merumuskan sesuatu yang ideal dalam kehidupan.
            Menurut Storey (dalam Escarpit)[10], ideologi adalah seperangkat gagasan yang sistematis yang disusun atau dihasilkan dan dianut oleh sekelompok orang dengan tujuan tertentu. Tujuan ideologi adalah suatu penciptaan topeng dimana orang disadarkan dengan suatu kesadaran palsu.
Ideologi dalam kajian kesusasteraan adalah sebuah fakta tercitranya obyek tertentu sebagai sebuah bentuk yang diyakini eksistensinya dalam kehidupan sehari-hari. Pertemuan antara sastra dan ideologi terjadi pada saat ada ide yang coba untuk disampaikan oleh pengarang kepada pembacanya, baik secara tertulis maupun tersirat.
            Awalnya ide dari ideologi adalah nilai-nilai yang ditanamkan dalam masyarakat namun, dalam konteks kajian budaya dan hubungannya dengan budaya popular dan cara kerja ideologi, konsep ideologi semakin dekat dengan hegemoni berarti suatu konsep yang menggambarkan suatu dunia ide atau praktek tertentu yang sedemikian rutinnya sehingga kita lupa bahwa kita menambah nilai (dengan menyetujui dan mendukungnya) kepada ritual atau rutinitas ini pada setiap langkah disepanjang perjalananya. Ideologi telah menyusup ke dalam setiap sudut dan celah-celah pengalaman sehari-hari kita. Dengan demikian, ideologi menyusup disetujui, lalu dilaksanakan tanpa disadari oleh orang yang terdominasi.

2.5 Hakikat Hegemoni
Hegemoni berasal dari Bahasa Yunani, yaitu hegeisthai yang berarti memimpin, kepemimpinan, kekuasaan yang melebihi kekuasan yang lain. Hegemoni dikembangkan oleh filsuf dari Itali bernama Antonio Gramsci pada tahun 1891-1937. Konsep hegemoni memang dikembangkan atas dasar dekonstruksinya terhadap konsep marxis ortodoks yang terjadi pada masa itu di dalam masyarakat.
Secara umum, hegemoni dianggap sebagai suatu dominasi kekuasaan suatu kelas sosial atas kelas sosial lainnya, melalui kepemimpinan intelektual dan moral yang dibantu dengan dominasi atau penindasan. Bisa juga hegemoni didefinisikan sebagai dominasi oleh satu kelompok terhadap kelompok yang lain, dengan atau tanpa ancaman kekerasan, sehingga ide-ide yang didiktekan oleh kelompok dominasi terhadap kelompok yang didominasi/dikuasai diterima sebagai sesuatu yang wajar dan tidak mengekang pikiran.
Hegemoni Gramsci menekankan kesadaran moral, dimana seseorang disadarkan lebih dulu akan tujuan hegemoni itu. Setelah seseorang sadar, ia tidak akan merasa dihegemoni lagi melainkan dengan sadar melakukan hal tersebut dengan suka rela. Jadi terdapat dua jenis hegemoni, yang satu melalui dominasi atau penindasan, dan yang lain melalui kesadaran moral. Hegemoni dengan dominasi atau penindasan merupakan hegemoni konsep Marxis, biasanya bernuansa negatif. Sementara itu hegemoni menurut Gramsci, adalah hegemoni dengan kepemimpinan intelektual dan moral, biasanya bernuansa positif.
Hegemoni Gramsci memuat ide tentang usaha untuk mengadakan perubahan sosial secara radikal dan revolusioner. Gagasan hegemoni Gramsci telah mengadung isu-isu pokok dalam studi kultural, seperti tentang pluralisme, multikultural, dan budaya marginal. Menurut Gramsci agar masyarakat tidak merasa dihegemoni, perlu adanya pengarahan konsep pemikiran oleh suatu konsensus. Konsensus dapat dilaksanakan melalui lembaga sosial, atau dapat juga konsensus dilaksanakan melalui penanaman ideologi. Menurut Gramsci, ideologi tidak otomatis tersebar dalam masyarakat, melainkan harus melalui lembaga-lembaga sosial tertentu yang menjadi pusatnya.
Kata ‘intelektual’ dalam hegemoni Gramsci dipahami sebagai suatu strata sosial yang menyeluruh yang menjalankan suatu fungsi organisasional dalam pengertian yang luas. Jadi intelektual bisa mencakup bidang kebudayaan atau administrasi politik, mereka mencakup kelompok-kelompok misalnya dari pegawai yunior dalam ketentaraan sampai dengan pegawai yang lebih tinggi. Dengan pengertian setiap kelompok sosial dalam lapangan ekonomi menciptakan satu atau lebih strata intelektual, akan memberikan homogenitas dan suatu kesadaran mengenai fungsinya sendiri.
Dan seiring dengan perkembangan teknologi, dominan budaya, politik dan ekonomi bisa menguasai dari satuan yang besar hingga satuan yang kecil. Satuan besar yaitu negara, satuan kecil hingga perorangan. Perlu disadari hegemoni sekarang bisa dipahami sebagai dominansi dari budaya negara maju terhadap negara berkembang. Jadi hegemoni tidak semata-mata dalam bentuk penindasan/penguasaan secara fisik, tetapi bisa penguasaan secara wacana. Hegemoni wacana inilah yang berbahaya, karena manusia tidak sadar bahwa dia telah dihegemoni.
Dalam hegemoni Gramsci, ada tiga cara untuk membentuk gagasan yang biasa digunakan oleh kaum intelektual untuk mendominasi, yaitu:
  1. Bahasa merupakan sarana utama yang berpengaruh terhadap konsep dunia tertentu. Makin luas wilayah maka makin banyak bahasa yang dikuasai, dan makin mudah dalam penyebaran ideologi;
  2. Pendapat umum (common sense) yang bersifat kolektif. Budaya pop telah menjadi arena penting dalam pertarungan ideologi. Melalui pendapat umum maka dibangunlah ideologi, yang juga berfungsi untuk melawan ideologi;
  3. Folklor, dalam hal ini meliputi kepercayaan, opini, dan takhayul juga sangat berperan dalam menopang hegemoni, kekuatan ini berfungsi untuk mengikat masyarakat tanpa kekerasan. Pada dasarnya hegemoni tidak dapat dipaksakan dari pemimpin, namun tidak juga berkembang secara bebas atau tidak disengaja, hegemoni diperoleh dari negoisasi dan kesepakatan.

2.6 Novel Dalam Pembelajaran Sastra
            Pembelajaran sastra dalam dunia pendidikan dianggap paling rendah baik dalam hal minat, materi, motivasi dan penerapannya dalam kurikulum pendidikan. Hal ini bertolak belakang dari manfaat dan keunggulan dari mempelajari sastra. Belajar sastra mampu mengasah kecerdasan emosional siswa dan pola pikir siswa.
            Membaca novel, mengajak siswa untuk mengembangkan daya nalar dan imajinasinya sehingga proses pemahaman dan kinerja otak menjadi termotivasi secara alami. Konflik yang muncul dalam diri siswa saat membaca sebuah karya sastra merupakan bukti bahwa sastra sangat ampuh mengasah kecerdasan otak siswa baik logika maupun perasaannya.
            Sri B. Oemarjati[11] mengungkapkan bahwa pengajaran sastra dapat memperkaya pengalaman siswa menjadikan lebih tanggap terhadap peristiwa-peristiwa manusiawi, pengenalan rasa dan hormatnya tehadap tatanilai, baik dalam konteks individual, maupun sosial. Tujuan tersebut dijabarkan ke dalam empat kompetensi dasar, meliputi kompetensi mendengar, berbicara, membaca, dan menulis.
  •       Kompetensi mendengarkan yaitu memahami dan mengapresiasi ragam karya sastra baik karya asli mamupun saduran/terjemahan sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik.
  •      Kompetensi berbicara yaitu membahas serta mendiskusikan ragam karya sastra sesuai isi, konteks lingkungan dan budaya.
  •        Kompetensi membaca yaitu memahami berbagai jenis karya sastra dan mengapresiasinya secara tepat.
  •      Kemampuan menulis yaitu mengapresiasi karya sastra dalam bentuk penulisan kreatif, serta dapat menulis kritik dan esai sastra berdasarkan ragam sastra yang telah dibaca.


2.7 Pemanfaatan TIK Dalam Pembelajaran
            Teknologi merupakan produk kreatif hasil ciptaan manusia yang dikembangkan untuk memenuhi berbagai keperluan hidup manusia dan menjadikannya lebih efektif. Internet sebagai bagian dari produk teknologi informasi berkembang dengan sangat pesat dan memberi perubahan yang cukup signifikan dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Internet telah mempengaruhi pola berkomunikasi antar manusia dalam dunia maya. Melalui internet setiap orang dapat berkomunikasi tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi para peneliti dalam menyelesaikan penelitiannya.
            Kemudahan yang ditawarkan oleh internet kini telah mampu memperkaya pemikiran dan pola pikir manusia. Bagi peneliti yang akan meneliti, pemanfaatan internet dapat digunakan untuk berbagi ide dan gagasan terhadap orang-orang yang memiliki interest yang sama di bidangnya. Bukan hanya itu saja peneliti juga dapat menggunakan internet untuk mencari referensi dan sumber-sumber terkait yang dibutuhkan dalam menyelesaikan penelitian. Menggunakan jurnal atau ebook yang ada di dunia dapat digunakan dengan maksimal oleh peneliti tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.
            Selain itu pemanfaatan TIK juga dapat digunakan dalam proses belajar mengajar, pada hal ini dalam keterampilan berbahasa, khususnya ketrampilan membaca. Menurut anawidyas, pemanfaatan TIK dalam keterampilan berbahasa dapat dikembangkan dengan topik berikut.
Aspek
Topik
Menyimak
a.        Menangkap Pokok Pikiran
b.        Membedakan Bunyi Distingtif
c.        Mengungkap Kembali Tuturan
Membaca
a.      Meningkatkan Kecepatan Membaca
b.      Menengkap Pokok Pikiran
c.      Menemukan Topik Tulisan
Berbicara
a.      Pemroduksian Tuturan
b.      Keefektifan Kalimat
c.      Keruntutan Gagasan
d.      Ketepatan Artikulasi
Menulis
a.      Menulis Jurnal
b.      Menulis Artikel
c.      Menulis Bersama
d.      Menulis Prosa Fiksi

Dengan mencermati berbagai penelitian tersebut, tampaknya dalam pembelajaran keterampilan berbahasa para pengajar bahasa perlu melakukan inovasi pembelajaran dengan memanfaatkan komputer sebagai media pembelajaran.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deksriptif dengan metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis isi (content analysis). Analisis isi adalah sebuah metode penelitian yang digunakan untuk memahami pesan simbolik atau tersirat yang terkandung dari sebuah wacana atau teks, dalam hal ini adalah novel. Metode analisis isi digunakan dengan pertimbangan:
a)      Kajian yang dilakukan memerlukan kecermatan dan ketelitian yang tinggi. Karena kajian yang digunakan adalah sosiologi sastra
b)      Tujuan utama penelitian ini adalah mendeskripsikan, menganalisa, tema, alur, tokoh/penokohan, latar, maupun kajian budaya yang terdapat dalam novel.

3.2 Pendekatan Penelitian
Adapun pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sastra sosiologi. Pendekatan sosiologis digunakan dengan cara menganalisis struktur instrinsik dan ekstrinsiknya kemudian menghubungkannya dengan kondisi sosial yang terjadi dalam masyarakat kemudian mengimplementasikan hasil yang diperoleh dalam pelajaran membaca karya sastra di SMA.
Pendekatan sosiologi digunakan dengan alasan mempunyai segi-segi yang bermanfaat dan berdaya guna tinggi karena peneliti memperhatikan unsur intrinsic yang terdapat dalam novel dan  unsur ekstrinsik pengarang untuk membangun karya sastra, disamping memperhatikan faktor sosiologi dan ideologi yang ada dalam masyarakat.
Sehubungan dengan itu, kajian yang komprehensif dilakukan oleh penulis berkaitan dengan tema, alur, tokoh atau penokohan, serta latar dalam novel. Berdasarkan kajian sosiologis, peneliti berusaha menemukan pendeskripsian hegemoni sosial dan ideologi dalam masyarakat serta mengimplementasikannya dalam pembelajaran karya sastra di SMA.

3.3 Sumber Data
Data formal ppenelitian ini berupa kata-kata, frasa, kalimat, atau wacana yang terdapat dalam novel The Years of The Voiceless. Sedangkan sumber data yang digunakan adalah data kepustakaan yaitu berupa buku-buku, artikel, serta beberapa hasil penelitian yang berhubungan dengan permasalahan yang menjadi objek penelitian.

3.4 Teknik Pengumpulan Data
            Langkah yang ditempuh di dalam proses pengumpulan data, antara lain:
  •      Pengumpulan data kepustakaan
  •      Pembacaan secara intensif dan berulang-ulang novel yang akan diteliti
  •      Membuat catatan yang berupa abstraksi atau pendeskripsian setiap peristiwa yang merupakan unsur cerita dalam novel.
  •      Mengidentifikasi aspek-aspek yang tercantum dalam tujuan penelitian
  •      Melakukan analisis dan interpretasi data

3.5 Teknik Analisis Data
Analisis yang dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan metode analisis isi. Menurut Phillip Maryingn metode deskriptif kualitatif meliputi:
  •         Penetapan perumusan masalah penelitian
  •         Penentuan defenisi kategori dan tingkat abstraksi untuk kategori induktif
  •     Formulasi langkah demi langkah terhadap data dengan mempertimbangkan definisi kategori, mengurutkan kategori yang ada atau memformulasi kategori baru
  •     Tevisi kategori sebagai bentuk pengecekan reliabilitas secara formatif dengan memperhatikan pertanyaan penelitian
  •         Penyelesaian akhir proses pengkategorian debagai bentuk pengecekan realibilitas sumatif
  •         Intepretasi hasil


3.6 Pemeriksaan Keabsahan Data
            Agar hasil penelitian yang bersifat kualitatif benar-benar dapat dipertanggungjawabkan, maka peneliti melaksanakan pemeriksaan terhadap keabsahan data secara cermat sesuai dengan teknik pemeriksaan keabsahan data.
            Pemeriksaan keabsahan data yang dilakukan adalah validasi atau verifikasi yang dikenal dengan istilah triangulasi. Menurut Creswell[12], triangulasi dalam penelitian dibutuhkan agar penelitian kreadible dan pengecekan data dilakukan dari berbagai cara. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik keabsahan data dengan triangulasi:
  •       Triangulasi Data

Triangulasi data dilakukan untuk menguji, peneliti menggunakan data lain dari sumber yang berbeda tetapi memiliki kepadanan.
  •       Triangulasi Teori

Peneliti menggunakan triangulasi teori yaitu dengan pendekatan sastra sosiologi dengan bantuan sumber data berbentuk buku.
  •       Triangulasi Peneliti

Dalam hal ini peneliti memanfaatkan jasa peneliti lain dalam pengecekan data. Cara yang digunakan adalah dengan bentuk diskusi dengan rekan-rekan di bidang sastra. Selain itu peneliti juga mendapatkan banyak bantuan dan masukan yang berasak dari dosen pembimbing maupun dosen yang expert dalam bidang sastra.

DAFTAR PUSTAKA

Bahtiar, Ahmad, Arwinarto. 2013. Metodologi Penelitian Sastra. Tangerang: PT Pustaka Mandiri Damono, Sapardi Djoko. 2003. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan Bahasa. Departemen pendidikan dan Kebudayaan.
______________________. 1978. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Creswell, W. John. 1988. Reseach Design: Qualitative And Quantitative Approach. Boston: Sage Publication.
Endraswara, Suwardi. 2002. Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: Center for Academic Publishing Service.
Escarpit, Robert. 2005. Sosiologi Sastra. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Oemarjati, Sri Boen. 2006. Kondisi Pengajaran Sastra di Jenjang Pendidikan Menengah. Jakarta: Susastra Jurmal Ilmu Sastra dan Budaya.
Phillp, Marying. Qualitative Content Analysis Dalam Forum: Qualitative Sosial Research, Vol.1 No.2 Juni 2000
Richard, Taylor. 1981. Understanding The Element of Literature. New York: St. Martin’s Press.
Sangidu. 2007. Penelitian Sastra: Pendekatan, Teori, Metode, Teknik, Dan Kiat. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada.
Susanto, Dwi. 2016. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Center for Academic Publishing Service.
Kennedy, X. J. 1987. Literature: An Introduction To Fiction, Poetry, and Drama. Boston: Little Brown and Company


LAMPIRAN

Sinopsis Novel:
The Years of The Voiceless merupakan kisah kehidupan dua orang perempuan Sumarni, yang biasa dipanggil Marni dan anaknya, Rahayu. Marni adalah seorang perempuan pemuja leluhur (animisme) yang ulet untuk meraih apa yang diinginkannya, karakternya ini mulai terbentuk sejak ia beranjak remaja. Ketika payudaranya mulai menyembul timbullah keinginan untuk memiliki Entrok (pakaian dalam perempuan) seperti yang dimiliki oleh teman sebayanya.
Keinginannya yang sederhana ini menjadi tak masuk akal karena sebagai keluarga miskin yang tinggal bersama ibunya yang hanya seorang buruh pengupas singkong membuat Entrok menjadi barang yang mewah dan tak terbeli. Namun Marni tak menyerah dengan keadaannya. Ia rela menjadi kuli angkut di pasar agar bisa mendapat uang untuk membeli Entrok.
Akhirnya Marni berhasil membeli sebuah Entrok, pengalamannya ini membentuk persepsi pada dirinya bahwa sebuah mimpi bisa diraihnya asal mau berusaha dan bekerja keras. Hal inilah yang membentuknya menjadi wanita ulet yang tak menyerah bergitu saja pada segala keterbatasannya. Kisah Marni terus bergulir, ia menikah dan mempunyai seorang anak. Sayangnya suaminya seorang pemalas, dan doyan bermain perempuan, dengan demikian Marnilah yang mencari nafkah dan menjadi tulang punggung keluarga. Ia terus bekerja, mulai dari buruh pengupas singkong, kuli angkut, penjual panci hingga akhirnya menjadi seorang rentenir yang kaya.
Profesi Marni sebagai seorang rentenir memang membuatnya menjadi kaya namun ia harus menanggung cemoohan orang yang mencapnya sebagai lintah darat. Namun Marni tetap bergeming, ia terus menjalankan usahanya karena menurutnya apa yang dilakukannya tidaklah bersalah malah justru menolong orang-orang yang membutuhkan uang. Selain itu kepercayaan Marni yang masih memuja leluhurnya dengan sesajen-sesajen membuat ia dicurigai bersekutu dengan iblis, melakukan pesugihan, memelihara tuyul agar bisa memperoleh kekayaan.
Adapun Rahayu dikisahkan sebagai wanita yang cerdas, berpendidikan dan taat dalam menjalankan ibadah agamanya. Semakin dewasa ketika menyadari bahwa ibunya seorang rentenir dan pemujaan terhadap leluhur yang dianggapnya musrik membuat ia memberontak terhadap ibunya sendiri. Puncaknya adalah ketika ia memutuskan untuk menikah dengan seorang pria beristri dan pergi meninggalkan ibunya. Semenjak menikah hubungan dengan Rahayu dan hubungan dengan ibunya menjadi terputus karena ia tak pernah memberi kabar pada kedua orang tuanya.
Rahayu yang sekarang bukan Rahayu yang dulu. Sekarang ia pendiam, penurut, dan hanya mau tinggal di rumah. Hidupnya seperti tidak ada artinya lagi. Ternyata, Rahayu dicap PKI, ia pernah dipenjara. Marni tetap ingin membahagiakan anaknya. Ia mencari pemuda yang mau menikah dengan anaknya. Setelah mendapatkan Sutomo, anak tukang andong di dekat pasar, Marni menyiapkan semua persiapan pernikahan. Namun, tiba sehari sebelum menikah, Sutomo dan ayahnya datang ke rumah Marni dan meminta pembatalan pernikahannya dengan Rahayu sebab baru tahu bahwa calon istrinya PKI. Ia tidak mau dan merasa tertipu. Saat itu juga, Marni seketika menjadi gila. Sementar Rahayu sudah menerima nasib, bahwa tak ada yang mau dengannya, seorang korban yang di-PKI-kan dan seorang yang sudah diperkosa polisi saat di penjara.
Dari narasi dua perempuan, Marni dan Rahayu lah kisah Entrok terbangun dimana kedua tokoh ini menjadi naratornya secara bergantian. Sebenarnya kisah dalam novel ini sederhana yaitu perjalanan hidup dua wanita yang penuh perjuangan melawan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan.



[1] Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi. (Yogyakarta: Center for Academic Publishing Service, 2002), h. 18.
[2] Sapardi Djoko Damono. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. (Jakarta: Pusat Pembinaan Bahasa. Departemen pendidikan dan Kebudayaan, 2003), 14.
[3] Ibid., h. 20.
[4] Suwardi, op.cit., h. 18
[5] Sapardi, op.cit., h 35.
[6] Kennedy, X. J. Literature: An Introduction To Fiction, Poetry, and Drama. (Boston: Little Brown and Company, 1987), h. 45
[7] Richard Taylor. Understanding The Element of Literature. (New York: St. Martin’s Press, 1981), h. 47
[8] Kennedy, op.cit., h. 50
[9] Dwi Susanto. Pengantar Kajian Sastra. (Yogyakarta: Center for Academic Publishing Service, 2016). h. 65.

[10] Robert Escarpit. Sosiologi Sastra. (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005), h. 67.

[11] Sri Boen Oemarjati. Kondisi Pengajaran Sastra di Jenjang Pendidikan Menengah. (Jakarta: Susastra Jurnal Ilmu Sastra dan Budaya, 2006), h. 38.

[12] John W. Creswell. Reseach Design: Qualitative And Quantitative Approach. (Boston: Sage Publication, 1988), h. 129.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penerapan TIK Dalam Pendidikan Jarak Jauh

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Dalam masyarakat berbasis pengetahuan, peranan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat dominan. Masyarakat Indonesia yang indeks teknologinya masih rendah belum secara optimal memanfaatkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) sebagai penggerak utama perubahan masyarakat. Pendidikan memfasilitasi peningkatan indeks teknologi tersebut. Oleh karena itu, peranan teknologi, informasi, dan komunikasi untuk pendidikan (TIK) menjadi sangat penting. Dalam era informasi dewasa ini, TIK telah menjadi faktor sekaligus indikator penentu kemajuan peradaban suatu bangsa. Hampir tidak ada dimensi peradaban kehidupan manusia dewasa ini yang tidak ditopang oleh TIK. Bahkan, daya saing suatu bangsa ditentukan oleh seberapa besar kemampuan dalam menguasai dan memanfaatkan TIK untuk berbagai sektor kehidupan, termasuk sektor pendidikan. Pendidikan dalam hal ini mengacu kepada sistem pendidikan berbasis TIK. Sistem pendidikan berbasis TIK atau yang dikena...

Resensi Buku Sintaksis: Memahami Satuan Kalimat Perspektif Fungsi

A.     Identitas Buku 1. Judul buku   : Sintaksis: Memahami Satuan Kalimat Perspektif Fungsi. 2. Pengarang    : Miftahul Khairah dan Sakura Ridwan. 3. Penerbit        : Bumi Aksara 4. Tahun terbit : 2014 5. Kota                         : Jakarta 6. Tebal buku   :237 halaman B.      Resensi Buku             Secara keseluruhan, buku ini membahas menganai ilmu bahasa, sintaksis untuk dapat memahami kalimat melalui perspektif fungsi. Ilmu bahasa mengalami perkembangan terus-menerus sesuai dengan perkembangan fenomena berbahasa masyarakat. Perkembangan ini membawa konsekuensi bagi perubahan paradigm dalam memandang hakikat bahasa. Teorisasi ilmu bahasa dapat dipetakan menjadi dua mazhab besar, yakni orientasi formalism...

PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PEMBELAJARAN

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Disadari atau tidak, ada banyak perubahan pesat yang terjadi di sekitar kita akhir-akhir ini. Dalam dunia anak misalnya. Pada tahun 90 an, banyak anak yang menghabiskan waktunya untuk bermain bersama dengan teman-temannya bersama di sore hari. Namun seiring dengan berjalannya waktu, pada era millennia, banyak anak yang lebih suka berdiam diri saja di rumah dan bermain menggunakan gadget mereka. Permainan menggunakan gadget terasa lebih menarik dan menyenangkan daripada menghabiskan waktu bermain dan berinteraksi dengan sesama. Sehingga interaksi yang diperoleh oleh anak bukan lagi menjadi dua arah namun menjadi satu arah saja. Bukan hanya melanda anak-anak. Jika kita berjalan ke pusat perbelanjaan atau restaurant, kita akan banyak melihat orang yang menunduk dan asik dengan gadget mereka. Tak hanya itu saja, jika ditinjau lebih jauh, sudah banyak toko yang gulung tikar dan beralih memanfaatkan teknologi, berjualan online. Rupanya k...