HEGEMONI SOSIAL DAN IDEOLOGI DALAM NOVEL THE YEARS OF THE VOICELESS KARYA OKKY MADASARI SERTA IMPLIKASINYA DALAM PELAJARAN MEMBACA DI SMA
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Novel
merupakan salah satu ragam karya sastra yang digemari oleh banyak kalangan, mulai
dari yang muda hingga tua, tanpa memandang suku, agama, dan golongan manapun.
Melintasi rentang ruang dan waktu, menjalin banyak kisah dan peristiwa baik
masa kini dan masa lampau, membawa pembaca hanyut ke dalam dunia yang berbeda,
novel mampu menyingkapi banyak hal di masa kini, masa sekarang, maupun
imajinasi mengenai masa depan. Bukan hanya bercerita mengenai sejarah, namun
juga dapat membawa pembaca ke dalam berbagai aspek kehidupan seperti politik,
budaya, sosiologi, maupun aspek lainnya.
Novel
juga menjadi salah satu karya sastra yang sangat menarik karena melalui sebuah
novel penulis dapat menyampaikan gagasannya kepada pembaca. Melalui novel,
pengarang dapat menyampaikan hal-hal atau nilai-nilai yang tidak mudah untuk
disampaikan dengan lantang, namun hal tersebut dapat disampaikan dengan cara
yang berbeda dalam novel. Selain ide dan gagasan pengarang, novel juga mampu
menggambarkan bagaimana hubungan antara pengarang dengan kehidupan pribadinya
maupun dengan lingkungan sosialnya. Melalui untaian kata-kata yang dituang
dalam sebuah novel, dengan metode tertentu dapat mengungkapkan fakta yang
terjadi dalam dunia yang sebenernya. Oleh sebab itu karya sastra, yang
diwakilkan oleh novel saat ini, tidak dapat dianggap hanya sebagai tulisan yang
bertujuan untuk menghibur semata. Ada banyak ide atau gagasan, ada banyak fakta
dalam kehidupan, ada banyak pesan yang dapat diungkapkan oleh pengarang melalui
karyanya.
Penelitian
sosiologi sastra adalah salah salah satu tools
yang dapat digunakan untuk menyingkapi kehidupan sosial yang ada dalam sebuah
novel, baik kehidupan sosial pengarang maupun kehidupan sosial yang terjadi
pada masanya. Menurut Endraswara[1],
Karya sastra yang berhasil atau sukses yaitu yang mampu merefleksikan zamannya.
Oleh sebab itu penelitian sastra melalui pendekatan sosial diharapkan mampu
mengungkapkan kehidupan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Hal tersebut yang
juga coba diungkapkan oleh Okky Madasari melalui novelnya yang berjudul The Years of The Voiceless.
The Years of The
Voiceless merupakan novel yang memiliki setting pada masa orde
baru tahun 1950-1994. Novel ini menceritakan kisah kehidupan dua orang perempuan Sumarni, yang
biasa dipanggil Marni dan anaknya, Rahayu. Marni adalah seorang perempuan
pemuja leluhur (animisme) yang ulet untuk meraih apa yang diinginkannya. Marni
dan Rahayu adalah dua orang yang hidup sebagai seorang yang miskin, sehingga
untuk meraih apa yang diinginkannya mereka harus melakukan berbagai macam cara
termasuk menikah. Kehidupan mereka yang lekat dengan kehidupan pasar juga
menjadikan mereka sering ditindas oleh kaum yang lebih berkuasa. Menjadi
menarik ketika kelamaan mereka bisa memperoleh kehidupan yang lebih baik.
Secara umum, hegemoni
dianggap sebagai suatu dominasi kekuasaan suatu kelas sosial atas kelas sosial
lainnya, melalui kepemimpinan intelektual dan moral yang dibantu dengan
dominasi atau penindasan Kaun yang lebih berkuasa, yang sering disebut sebagai
kelompok mayoritas cenderung mengidentifikasikan dan menilai kaum yang lemah
atau minoritas berdasarkan ciri fisik, pekerjaan, maupun golongan. Sehingga
perlakuan yang diberikan pun berbeda.
Ideologi
dalam kajian kesusasteraan adalah sebuah fakta tercitranya obyek tertentu
sebagai sebuah bentuk yang diyakini eksistensinya dalam kehidupan sehari-hari.
Ideologi adalah nilai atau gagasan yang yang berusaha ditanamkan kepada
kelompok tertentu sehingga melalui nilai tersebut menjadi nilai yang diyakini
dalam diri dan dilakukan sebagai hal normal dan wajar untuk dilakukan.
Hegemoni
yang dialami oleh Rahayu dan Marni serta ideologi yang ditanamkan oleh kaum
yang lebih berkuasa kepada mereka yang lebih lemah menjadi sebuah hal yang
menarik untuk diteliti lebih lanjut. Pasalnya hal tersebut juga pernah juga
dialami bukan hanya Rahayu dan Manri, namun juga pernah dialami oleh masyarakat
Indonesia. Dengan penggunaan gaya Bahasa yang sederhana dam mudah dipahami oleh
berbagai kalangan, Okky Madasari mencoba menghantarkan pembaca masuk ke era
orde baru dan merefleksikan kejadian yang pernah terjadi melalui rangkaian dan
peristiwa yang terjadi dalam cerita.
Ilmu
tidak akan berguna jika tidak digunakan atau diimplementasikan dalam kehidupan.
Oleh sebab itu melalui penelitian yang akan dilakukan diharapkan mampu dapat
diimplementasikan dalam pembelajaran yang ada di SMA dengan mengkaji
unsur-unsur yang terdapat dalam novel.
Untuk
dapat menyelesaikan penelitian ini, peneliti menggunakan Teknologi, Informatika
dan Komunikasi (TIK) dalam meneliti. Sejak perkembangan TIK mempermudah dalam
melakukan segala kehidupan manusia, TIK juga dapat mempermudah peneliti dalam
melakukan penelitian ini. Diharapkan dengan pemanfaatan TIK, peneliti dapat
berbagi sumber ide dan kajian budaya serta mengaikatnya dengan kajian sosial
masyarakat. Selain itu pemanfaatan yang juga dapat dimanfaatkan oleh peneliti
adalah penggunaan komputer dalam menulis penelitian dan komputer serta
pemanfaatan kamus elektronik dalam mencari makna cerita.
Pemanfaatan
komputer serta kamus elektronik dapat digunakan karena novel yang akan diteliti
oleh peneliti dan dibaca oleh siswa adalah novel dalam bahasa asing, sehingga
akan mempersulit siswa dalam mencari ide dan makna dalam bacaan jika bahasa
yang digunakan bukanlah bahasa sehari-hari siswa. Oleh sebab itu untuk
menejrmahkan kata-kata sulit yang tidak dimengerti oleh siswa, siswa dapat
menggunakan perangkat komputer atau kamus elektronik lainnya.
1.2 Fokus dan Subfokus Penelitian
Berdasarkan
latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, maka fokus penelitian ini
adalah pendeksripsian hegemoni sosial dan ideologi yang terdapat dalam
masyarakat serta implikasinya dalam pembelajaran SMA pada novel The Years of The Voiceless karya Okky
Madasari. Dari fokus yang akan diteliti, maka novel tersebut akan dielaborasi
menjadi beberapa sub penelitian:
1. Unsur
intrinsik dalam novel The Years of The
Voiceless karya Okky Madasari, yang terdiri dari alur, penokohan, latar dan
tema dalam novel.
2. Unsur
ekstrinsik dalam novel yaitu biografi pengarang (status sosial, budaya, dan
latar belakang kehidupan dalam keluarga yang mempengaruhi pengarang dalam
menulis novel)
3. Penyebab
terjadinya hegemoni sosial dalam masyarakat
4. Tradisi,
kebiasaan, dan norma yang ada dalam masyarakat
5. Faktor
pendukun pembentuk ideologi dalam masyarakat
6. Dampak
yang ditimbulkan akibat hegemoni sosial dan ideologi dalam masyarakat
7. Pembelajaran
karya sastra di SMA
1.3 Perumusan Masalah
Untuk
mendapatkan hasil penelitian yang terarah dan sesuai dengan latar belakang, maka
diperlukan suatu perumusan masalah yang menjadi fokus dalam penelitian ini.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana
unsur-unsur yang terdapat dalam novel The
Years of The Voiceless karya Okky Madasari?
2. Bagaimana
hegemoni sosial yang terdapat dalam novel The
Years of The Voiceless karya Okky Madasari dengan pendekatan sosiologi
sastra?
3. Apa
ideologi yang timbul dalam masyarakat yang terbentuk dalam novel The Years of
The Voiceless karya Okky Madasari?
4. Bagaimana
implikasi hasil penelitian ini dalam pembelajaran di SMA?
1.4 Tujuan Penelitian
Penelitian
yang baik adalah penelitian yang memiliki tujuan. Tujuan penelitian ini adalah:
1. Mendeskripsikan
unsur-unsur yang terdapat dalam novel The
Years of The Voiceless karya Okky Madasari.
2. Mengungkapkan
hegemoni sosial yang terdapat dalam novel The
Years of The Voiceless karya Okky Madasari dengan pendekatan sosiologi
sastra.
3. Mengungkapkan
ideologi masyarakat yang terbentuk dalam novel The Years of The Voiceless karya Okky Madasari.
4. Mengungkapkan
implikasi hasil penelitian ini terhadap pembelajaran di SMA.
1.5 Manfaat Penelitian
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat memberi kegunaan, baik teoritis maupun praktis.
Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah:
1. Menambah
kajian dalam bidang sastra khususnya yang terkait dengan sosiologi sastra,
yaitu hegemoni sosial dan ideologi dalam masyarakat.
2. Memperluas
pemahaman dari sosiologi sastra terutama dalam pengembangan studi hegemoni sosial
dan ideologi yang terdapat dalam kehidupan masyarakat.
3. Memberikan
penggambaran serta pengetahuan mengenai hegemoni sosial dan ideologi yang
terdapat dalam kehidupan masyarakat.
Adapun
manfaat praktis yaitu nilai guna bagi kehidupan dan pengajaran sastra adalah:
1. Pemanfaatan
novel The Years of The Voiceless sebagai bahan ajar pelajaran membaca di SMA
yang berpedoman pada nilai pendidikan yang terkandung dalam novel (aspek
Bahasa, kajian sscial, ideologi amsyarakat, agama, etika, dsb)
2. Bagi
para pembaca dan penikmat sastra dapat memahami dinamika yang terjdi dalam
kehidupan masyarakat yang diungkapkan pengarang melalui karya sastranya.
3. Bagi
mahasiswa sastra, hasil penelitian ini berguna sebagai sarana edukasi bagi
pembelajar memahami interaksi atau hubungan sosial dalam kehidupan
BAB
II
LANDASAN TEORI
Bab
ini memberikan dengan rinci beragam teori yang menjadi acuan dalam menganalisa
novel The Years of The Voiceless karya
Okky Madasari. Beberapa pemaparan dari pakar kesusasteraan, pakar sosiologi
sastra, dan pakar kajian budaya akan menjadi kesatuan yang saling melengkapi
dalam analisis kritis sebuah karya sastra yang akan dibahas dalam penelitian
ini.
Sesuai
dengan tujuan penelitian, maka acuan teoritik yang digunakan tetap berfokus
pada unsur intrinsik sastra bersama dengan unsur ekstrinsik sastra dengan
pendekatan sosiologi sastra yang merupakan bagian teori kajian budaya.
2.1 Hakikat Sastra
Istilah sastra merupakan kata
serapan dari Bahasa Sansekerta, yang berarti teks yang mengandung instruksi
atau pedoman. Secara etimologis, sastra sendiri diartikan sebagai alat untuk
mengajar, buku petunjuk, taupun buku petunjuk pengajaran.Dalam Bahasa Indonesia,
dirujuk pada kata kesusastraan atau
sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia, sastra adalah 1) Bahasa berupa kata-kata atau gaya Bahasa
yang dipakai dalam kitab-kitab. 2) Karya tulis yang memilki ciri khas dalam hal
keaslian, nilai artistic dan keindahan pada isinya. Dapat dikatakan bahwa
sastra adalah tulisan atau karya tulis yang memiliki keindahan dalam isinya.
Dalam sastra hasil pemikiran,
gagasan, maupun pengalaman batin pengarang yang dapat dicurahkan lewat tulisan.
Selain itu melalui karya sastra dapat digambarkan zaman dan peristiwa yang
telah terjadi atau peristiwa yang terjadi pada zaman itu. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa melalui karya sastra, bukan hanya unsur keindahan saja yang
dapat dinikmati dan diamati, tetapi juga dapat merepresentasikan pengarang dan
cerminan kondisi masyarakat. Oleh sebab itu sastra tidak dapat dianggap sebagai
hal remeh dalam masyarakat.
Sastra bertujuan untuk mengembangkan
rasa kepekaan dan intuisi manusia terhadap hal-hal indrawi, akal, sosial,
religi dan kebudayaan. Sastra menggunakan bahasa sebagai unsur utama dalam
pengantarnya agar dapat diterima dengan baik dalam masyarakat. Bahasa yang
digunakan pun adalah pola-pola verbal yang konstruktif dan efektif dalam
mentransfer pesan, emosi atapun informasi.
2.2 Hakikat Sosiologi Sastra
Pada hakikatnya sastra dapat
meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, oleh sebab itu penelitian sastra
dapat mencakup ekonomi, politik, budaya, maupun sosial. Sastra dan sosiologi
memiliki objek yang sama yaitu manusia dan masyarakat. Karya sastra menerima
pengaruh dari masyarakat dan sekaligus mampu mempengaruhi masyarakat. Sosiologi
dianggap dapat memberi penjelasan yang bermanfaat tentang sastra sehingga
pemaknaan sastra tanpa sosiologi belom dianggap lengkap.
Sosiologi
sastra merupakan pendekatan tehadap sastra yang mempertimbangkan segi
kemasyarakatan. Sebuah karya sastra dianggap cukup reflektif untuk mencerminkan
kehidupan masyarakat. Menurut Ahmad
Bahtiar, sastra merupakan sebuah refleksi lingkungan sosial budaya yang
merupakan suatu tes dialektika antara pengarang dengan situasi sosial yang
membentuk atau memperjelasan suatu sejarah dialektika yang dikembangkan dalam
karya sastra.
Pada dasarnya, penelitian sosiologi
sastra lebih banyak memperbincangkan hubungan antara pengarang dengan kehidupan
sosialnya dan tidak menutup kemungkinan jika sosiologi sastra juga mampu
menyingkapi fakta-fakta sosial yang sedang terjadi dalam masyarakat. Menurut
Endraswara, Karya sastra yang berhasil atau sukses yaitu yang mampu
merefleksikan zamannya.
Menurut
Welek dan Warren (dalam Damono)[2],
sosiologi sastra dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian besar, yaitu:
·
Sosiologi
pengarang, mempermasalahkan mengenai status sosial, ideology
politik, dan lain-lain yang menyangkut diri pengarang.
·
Sosiologi
karya sastra, mempermasalahkan karya sastra yang
menjadi pokok telaah. Makna tersirat di dalamnya, tujuan atau amanat yang ingin
disampaikan.
·
Sosiologi satra, mempermasalahkan
tentang pembaca dan pengaruh sosialnya terhadap masyarakat.
Menurut
Ian Watt (Dalam Sapardi)[3]
menjelaskan, sasaran sosiologi sastra mencakup:
·
Konteks
sosial pengarang, menyangkut posisi dan kondisi sosial masyarakat
dan kaitannya dengan masyarakat pembaca, termasuk di dalamnya faktor-faktor konteks
sosial pengarang, menyangkut posisi dan kondisi sosial masyarakat dan kaitannya
dengan masyarakat pembaca, termasuk di dalamnya faktor-faktor sosial yang bisa
mempengaruhi si pengarang sebagai perseorangan disamping bisa mempengaruhi isi
karyanya.
·
Sastra
sebagai cerminan masyarakat, sejauh mana sastra dianggap
pencerminan keadaan masyarakat.
·
Fungsi
sosial sastra, berapa jauh nilai sastra berkaitan
dengan nilai sosial dan sampai mana
sastra berfungsi sebagai alat penghibur sekaligus sebagai pendidik bagi
msyarakat pembaca.
Hal
penting dalam sosiologi sastra adalah konsep cermin (mirror). Dimana karya
sastra dianggap sebagai memesis (tiruan) masyarakat. Meskipun demikian karya
sastra tidak lah menyodorkan data secara mentah atau copy kenyataan, namun
merupakan ilusi atau khayalan kenyataan. Kenyataan tersebut bukanlah jiplakan
kasar melainkan sebuah refleksi halus dan estetis yang mengandung makna.
Menurt
Endraswara[4],
sosiologi sastra dapat meneliti sekurang-kurangnya nelalui tiga perspektif
yaitu oersoektif teks sastra, penelti menganalisis sebagai sebuag refleksi
kehidupan masyaraakt Kedua, perspektif biografis, peneliti menganalisis
pengarang. Bagaimana hubungan pengarang dengan latar belakang sosialnya.
Ketiga, prespektif reseptof, peneliti menganalisis oenerimaan masyarakat
terjadap teks sastra.
Menurut
Watt dalam Damono[5],
ada tiga hal yang perlu diungkap hubungan antara nilai sosial dan nilai sastra
dalam penelitian sosial sastra:
·
Sudut pandang kaum romantic yang
menganggap sastra sama derajatnya dengan karya pendeta atau nabi, sehingga
sastra berfungsi sebagai pembaharu atau perombak.
·
Karya sastra bertugas sebagai penghibur
belaka.
·
Semacam kompromi dapat dicapai dengan
meminjam slogan klasik sastra yaitu harus mengajarkan sesuatu dengan menghibur.
2.3 Hakikat Novel
Ada banyak bentuk ragam karya sastra
yang diminti masyarakat seperti pantun, puisi, cerita pendek, cerita penjang,
novel, dan sebagainya. Diantara seluruh karya sastra yang ada, novel ada salah
satu ragam karya sastra yang paling diminati masyarakat dan dapat dinikmati
dari segala usia dan kalangan. Novel biasanya secara rinci menuangkan sebuah
cerita atau gagasan pengarang bahkan ada juga yang memberikan sebuah ideologi
baru bagi pembacanya.
Secara
etimologi, novel berasal dari Bahasa Perancis yaitu Nouvelle yang berarti cerita berbentuk prosa pendek yang biasanya
melukiskan cinta terlarang, penipuan, petualangan sensasional, heroism, bahkan
tentang degradasi moral. Pengertian lain, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,
novel adalah karangan prosa Panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang
dengan orang disekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap
pelakunya.
Kennedy[6]
membagi jenis novel menjadi tiga bagian. Pertama, novel epistolari (epistolary novel) adalah novel yang
berisikan surat-surat yang hanya terdidi dari satu tokoh saja, dan juga berupa
kumpulan surat-surat yang terdiri dari beberapa karakter. Contohnya adalah The Color Purple karya Alice Walker
(1928). Kedua, non fiksi (nonfiction
novel) adalah novel yang berisikan kejadian dan penokohan yang sesungguhnya
dalam bentuk cerita. Contohnya adalah novel karya Truman Capote yang berjudul
In Cold Blood (1966). Ketiga, novel sejarah (historical novel) adalah novel
yang merekonstruksi detail mengenai kehidupan di masa lain atau mungkin juga di
tempat lain. Contohnya adalah novel Patrisia Roma karya Robert Graves.
Setiap karya sastra pasti memiliki
unsur-unsur terkandung di dalamnya. Novel juga memiliki unsur pembentuknya.
Unsur-unsur itu disebut unsur intrinsic dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsic
adalah unsur yang terdapat dalam tubuh novel itu sendiri sedangkan unsur
eksrinsik adalah unsur yang terdapat
dari luar novel. Unsur ekstrinsik bisa dipengaruhi oleh ide atau latar belakang
pengarang, lingkungan masyarakat sekitar, atau factor-faktor lainnya yang
berasal bukan dari novel itu namun memiliki pengaruh terhadap novel.
Menurut Taylor[7]
ada tiga unsur konseptual dalam novel yaitu tindakan, yang berupa peristiwa dan
urutan kejadian (action), watak yang berupa motivasi atau reaksi yang
ditimbulkan oleh tokoh, (character) dan referensi tempat atau waktu (setting).
Struktur
Novel
Dalam novel kita mengenal lima
elemen besar yang menjadi unsur intrinsic novel, yaitu tokoh dan penokohan
(character and characterization), alur (plot), tema (theme), latar (setting),
dan sudut pandang (point of view). Kelima elemen tersebut akan dijelaskan
sebagai berikut:
a. Tokoh
Dan Penokohan (Character and Characterization)
Tokoh
umunya diartikan sebagai seseorang yang terlibat dalam sebuah cerita sedangkan menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia penokohan adalah penciptaan citra tokoh dalam
sebuah karya sastra. Tokoh memegang peranan utama dan sangat penting dalam
sebuah novel karena tokoh dapat mengikat seluruh unsur-unsur yang terdapat
dalam novel. Tanpa kehadiran para tokoh, makan novel tidak dapat dikatakan
sebagai sebuah karya sastra yang utuh.
E.M
Foster (dalam Kennedy)[8] membagi
tokoh menjadi dua jenis, yaitu tokoh bulat (round character) dan tokoh pipih
(flat character). Perbedaan keduanya terdapat pada kemampuan tokoh untuk
berubah, belajar dari pengalaman, dan menyesuaikan diri dengan keadaan. Tokoh
bulat mampu mengadaptasi dirinya dengan baik, sedangkan tokoh pipih tidak
mengalami perubahan sama sekali dari awal hingga akgir cerita.
Selain
itu berdasarkan perannya dalam sebuah karya sastra, tokoh dapat
diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu tokoh utama dan tokoh pendukung.
Tokoh utama adalah tokoh yang memegang peranan paling penting dan menjadi pusat
dari cerita sedangkan tokoh pendukung adalah tokoh-tokoh tambahan atau
penunjang dalam sebuah karya sastra.
Menurut
Tarigan (dalam Susanto) [9]ada
enam cara melukiskan penokohan salam sebuah karya sastra:
a)
Physical
description
Melukiskan bentuk lahir
dari tokoh.
b)
Portrayal
of thought stream or of conscious thought
Melukiskan jalan
pikiran tokoh atau apa saja yang terlintas dalam pikirannya.
c)
Reaction
to events
Melukiskan bagaimana
reaksi tokoh terhadap kejadian-kejadian yang terjadi.
d)
Direct
author analysis
Pengarang menganalisis
langsung watak tokoh.
e)
Discussion
of environment
Pengarang melukiskan
keadaan sekitar tokoh.
f)
Reaction
of others about/charater
Pengaang melukiskan
bagaimana pandangan-pandangan tokoh lain terhadap tokoh utama tersebut.
b. Alur
Selain tokoh dan penokohan, elemen
lainnya yang memegang peranan paling penting adalah alur (plot). Alur sering
juga disebut sebagau jalan cerita karena mengandung semua kejadian-kejadian
yang terjadi dari awal hingga akhir cerita. Umumnya alur dibagi menjadi tiga kategori
yaitu alur maju, alur mundur, dan alur campuran. Alur maju/progresif adalah
urutan kronologis cerita yang bersesinambungan dari tahap pengenalan sampai
penyelesaian. Alur mundur adalah tahapan alur cerita yang diawali dari
penyelesaian kemudian kembali ke awal mula cerita. Alur campuran adalah
gabungan dari alur maju dan mundur. Penulis menyajikan cerita kronologis
kemudian menceritakan kembali masa lalu (flash back) dan kembali ke masa kini.
Oleh karena itu dubutuhkan kecermatan dan ketelitian dalam meneliti alur
campuran.
Ada empat tahapan yang biasanya ada
dalam alur sebuah karya sastra:
1) Orientasi
Tahap ini merupakan masa
pengenalam tokoh kepada pembaca. Oleh sebab itu biasanya orientasi terdapat di
awal cerita karena bertujuan memperkenalkan tokoh kepada pembaca.
2) Menuju
konflik
Pada tahap ini tokoh
mulai memasuki area permasalahan kecil yang akan menghantarkannya kepada
masalah besar atau klimaks dalam cerita. Biasanya dalam tahap ini pembaca sudah
dapat menerka apa yang akan menjadi klimaksnya.
3) Klimaks/konflik
Pada tahap ini penulis
menghadirkan masalah yang sesungguhnya kepada pembaca dan biasanya menjadi inti
dalam cerita.
4) Resolusi
Resolusi merupakan tahap
penyelesaian dimana tokoh dapat menyelesaikan seluruh permasalahannya. Tahap
ini biasanya merupakan akhir dari sebuah cerita.
Pada kebanyakan novel keempat tahapan
ini biasanya muncul secara berurutan, namun hal itu tidak dapat dijadikan
patokan akan terjadi pada seluruh novel. Terutama pada novel yang memiliki alur
campuran, keempat tahapan ini bisa saja berubah-ubah. Namun yang pasti, dalam
setiap setiap novel pasti terdapat keempat tahapan tersebut.
c. Tema
Tema
adalah pokok pikiran dalam sebuah cerita yang hendak disampaikan pengarang
kepada pembaca melalui seluruh rangkaian cerita. Tema dapat juga disebut sebagai
gagasan atau amanat utama yang menjalin seluruh struktur isi karangan. Tema
merupakan ide utama yang terdapat pada sebuah cerita.
d. Latar
Latar
atau setting adalah keterangan petunjuk dan pengacuan yang berkaitan dengan
ruang dan waktu dalam cerita. Pada umumnya latar atau settimg terdiri dari:
ü Waktu
yaitu kapan peristiwa tersebut terjadi.
ü Tempat
yaitu dimana peristiwa tersebut berlokasi.
ü Budaya
yaitu tradisi atau adat yang digunakan dalam cerita.
ü Suasana
yaitu suasana atau situasi dan kondisi yang melingkupi dalam novel.
ü Latar
belakang dan kepribadian yang melatarbelakangi perilaku tokoh.
e. Sudut
Pandang
Sudut
pandang adalah cara pandang pengarang dalam mengungkapkan cerita. Sudut
pandanng pengarang dapat dikategorikan ke dalam tiga bagian. Pertama, sudut
pandang orang pertama, pelaku utama. Pengarang menggunakan pelaku utama sebagai
orang pertama dalam cerita tersebut, sehingga penulis menggunakan kata aku atau
saya dalam cerita. Kedua, sudut pandang orang ketiga. Pengarang
menggunakan pelaku utama sebagai orang
ketiga, sehingga penulis menggunakan kata ganti orang ketiga, seperti dia, ia,
atau nama orang tertentu. Ketiga, sudut pandang serba tahu. Pengarang
seolah-olah tau banyak hal dalam cerita tersebut. Pengarang dapat mengemukakan
segala tingkah laku sebebas-bebasnya sebagai tokoh utama.
2.4 Hakikat Ideologi
Ideologi pertama kali diperkenalkan
oleh Destutt de Tracy seorang filsuf dari Perancis. Menurut Tracy, ideologi
adalah ide, kebenaran atau kesalahan, bekerja dengan teori kritis yang
berproses dalam pikiran manusia. Menurutnya secara kategorial ideologi
menjelajahi wilayah keyakinan, nilai-nilai dan konsep ideal mengenai pemahaman
cara kerja dunia serta bagaimana manusia merespon orang lain dan lingkungannya,
membedakan mana yang baik dan benar serta merumuskan sesuatu yang ideal dalam
kehidupan.
Menurut Storey (dalam Escarpit)[10],
ideologi adalah seperangkat gagasan yang sistematis yang disusun atau
dihasilkan dan dianut oleh sekelompok orang dengan tujuan tertentu. Tujuan
ideologi adalah suatu penciptaan topeng dimana orang disadarkan dengan suatu
kesadaran palsu.
Ideologi
dalam kajian kesusasteraan adalah sebuah fakta tercitranya obyek tertentu
sebagai sebuah bentuk yang diyakini eksistensinya dalam kehidupan sehari-hari.
Pertemuan antara sastra dan ideologi terjadi pada saat ada ide yang coba untuk
disampaikan oleh pengarang kepada pembacanya, baik secara tertulis maupun
tersirat.
Awalnya ide dari ideologi adalah
nilai-nilai yang ditanamkan dalam masyarakat namun, dalam konteks kajian budaya
dan hubungannya dengan budaya popular dan cara kerja ideologi, konsep ideologi
semakin dekat dengan hegemoni berarti suatu konsep yang menggambarkan suatu
dunia ide atau praktek tertentu yang sedemikian rutinnya sehingga kita lupa
bahwa kita menambah nilai (dengan menyetujui dan mendukungnya) kepada ritual
atau rutinitas ini pada setiap langkah disepanjang perjalananya. Ideologi telah
menyusup ke dalam setiap sudut dan celah-celah pengalaman sehari-hari kita.
Dengan demikian, ideologi menyusup disetujui, lalu dilaksanakan tanpa disadari
oleh orang yang terdominasi.
2.5 Hakikat Hegemoni
Hegemoni berasal dari Bahasa
Yunani, yaitu hegeisthai yang berarti
memimpin, kepemimpinan, kekuasaan yang melebihi kekuasan yang lain. Hegemoni
dikembangkan oleh filsuf dari Itali bernama Antonio Gramsci pada tahun 1891-1937.
Konsep hegemoni memang dikembangkan atas dasar dekonstruksinya terhadap konsep
marxis ortodoks yang terjadi pada masa itu di dalam masyarakat.
Secara umum, hegemoni dianggap
sebagai suatu dominasi kekuasaan suatu kelas sosial atas kelas sosial lainnya,
melalui kepemimpinan intelektual dan moral yang dibantu dengan dominasi atau
penindasan. Bisa juga hegemoni didefinisikan sebagai dominasi oleh satu
kelompok terhadap kelompok yang lain, dengan atau tanpa ancaman kekerasan,
sehingga ide-ide yang didiktekan oleh kelompok dominasi terhadap kelompok yang
didominasi/dikuasai diterima sebagai sesuatu yang wajar dan tidak mengekang
pikiran.
Hegemoni Gramsci menekankan
kesadaran moral, dimana seseorang disadarkan lebih dulu akan tujuan hegemoni
itu. Setelah seseorang sadar, ia tidak akan merasa dihegemoni lagi melainkan
dengan sadar melakukan hal tersebut dengan suka rela. Jadi terdapat dua jenis
hegemoni, yang satu melalui dominasi atau penindasan, dan yang lain melalui
kesadaran moral. Hegemoni dengan dominasi atau penindasan merupakan hegemoni
konsep Marxis, biasanya bernuansa negatif. Sementara itu hegemoni menurut
Gramsci, adalah hegemoni dengan kepemimpinan intelektual dan moral, biasanya
bernuansa positif.
Hegemoni Gramsci memuat ide
tentang usaha untuk mengadakan perubahan sosial secara radikal dan
revolusioner. Gagasan hegemoni Gramsci telah mengadung isu-isu pokok dalam
studi kultural, seperti tentang pluralisme, multikultural, dan budaya marginal.
Menurut Gramsci agar masyarakat tidak merasa dihegemoni, perlu adanya
pengarahan konsep pemikiran oleh suatu konsensus. Konsensus dapat dilaksanakan
melalui lembaga sosial, atau dapat juga konsensus dilaksanakan melalui
penanaman ideologi. Menurut Gramsci, ideologi tidak otomatis tersebar dalam
masyarakat, melainkan harus melalui lembaga-lembaga sosial tertentu yang
menjadi pusatnya.
Kata ‘intelektual’ dalam
hegemoni Gramsci dipahami sebagai suatu strata sosial yang menyeluruh yang menjalankan
suatu fungsi organisasional dalam pengertian yang luas. Jadi intelektual bisa
mencakup bidang kebudayaan atau administrasi politik, mereka mencakup
kelompok-kelompok misalnya dari pegawai yunior dalam ketentaraan sampai dengan
pegawai yang lebih tinggi. Dengan pengertian setiap kelompok sosial dalam
lapangan ekonomi menciptakan satu atau lebih strata intelektual, akan
memberikan homogenitas dan suatu kesadaran mengenai fungsinya sendiri.
Dan seiring dengan
perkembangan teknologi, dominan budaya, politik dan ekonomi bisa menguasai dari
satuan yang besar hingga satuan yang kecil. Satuan besar yaitu negara, satuan
kecil hingga perorangan. Perlu disadari hegemoni sekarang bisa dipahami sebagai
dominansi dari budaya negara maju terhadap negara berkembang. Jadi hegemoni
tidak semata-mata dalam bentuk penindasan/penguasaan secara fisik, tetapi bisa
penguasaan secara wacana. Hegemoni wacana inilah yang berbahaya, karena manusia
tidak sadar bahwa dia telah dihegemoni.
Dalam hegemoni Gramsci, ada
tiga cara untuk membentuk gagasan yang biasa digunakan oleh kaum intelektual
untuk mendominasi, yaitu:
- Bahasa merupakan sarana utama yang berpengaruh terhadap
konsep dunia tertentu. Makin luas wilayah maka makin banyak bahasa yang
dikuasai, dan makin mudah dalam penyebaran ideologi;
- Pendapat umum (common
sense) yang bersifat kolektif. Budaya pop telah menjadi arena penting
dalam pertarungan ideologi. Melalui pendapat umum maka dibangunlah
ideologi, yang juga berfungsi untuk melawan ideologi;
- Folklor, dalam hal ini meliputi kepercayaan, opini, dan
takhayul juga sangat berperan dalam menopang hegemoni, kekuatan ini
berfungsi untuk mengikat masyarakat tanpa kekerasan. Pada dasarnya
hegemoni tidak dapat dipaksakan dari pemimpin, namun tidak juga berkembang
secara bebas atau tidak disengaja, hegemoni diperoleh dari negoisasi dan
kesepakatan.
2.6 Novel Dalam Pembelajaran Sastra
Pembelajaran sastra dalam dunia
pendidikan dianggap paling rendah baik dalam hal minat, materi, motivasi dan penerapannya
dalam kurikulum pendidikan. Hal ini bertolak belakang dari manfaat dan keunggulan
dari mempelajari sastra. Belajar sastra mampu mengasah kecerdasan emosional
siswa dan pola pikir siswa.
Membaca novel, mengajak siswa untuk
mengembangkan daya nalar dan imajinasinya sehingga proses pemahaman dan kinerja
otak menjadi termotivasi secara alami. Konflik yang muncul dalam diri siswa
saat membaca sebuah karya sastra merupakan bukti bahwa sastra sangat ampuh
mengasah kecerdasan otak siswa baik logika maupun perasaannya.
Sri B. Oemarjati[11]
mengungkapkan bahwa pengajaran sastra dapat memperkaya pengalaman siswa
menjadikan lebih tanggap terhadap peristiwa-peristiwa manusiawi, pengenalan
rasa dan hormatnya tehadap tatanilai, baik dalam konteks individual, maupun sosial.
Tujuan tersebut dijabarkan ke dalam empat kompetensi dasar, meliputi kompetensi
mendengar, berbicara, membaca, dan menulis.
- Kompetensi mendengarkan yaitu memahami dan mengapresiasi ragam karya sastra baik karya asli mamupun saduran/terjemahan sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik.
- Kompetensi berbicara yaitu membahas serta mendiskusikan ragam karya sastra sesuai isi, konteks lingkungan dan budaya.
- Kompetensi membaca yaitu memahami berbagai jenis karya sastra dan mengapresiasinya secara tepat.
- Kemampuan menulis yaitu mengapresiasi karya sastra dalam bentuk penulisan kreatif, serta dapat menulis kritik dan esai sastra berdasarkan ragam sastra yang telah dibaca.
2.7 Pemanfaatan TIK Dalam
Pembelajaran
Teknologi merupakan produk kreatif
hasil ciptaan manusia yang dikembangkan untuk memenuhi berbagai keperluan hidup
manusia dan menjadikannya lebih efektif. Internet sebagai bagian dari produk
teknologi informasi berkembang dengan sangat pesat dan memberi perubahan yang
cukup signifikan dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Internet telah
mempengaruhi pola berkomunikasi antar manusia dalam dunia maya. Melalui
internet setiap orang dapat berkomunikasi tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.
Hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi para peneliti dalam menyelesaikan
penelitiannya.
Kemudahan yang ditawarkan oleh
internet kini telah mampu memperkaya pemikiran dan pola pikir manusia. Bagi
peneliti yang akan meneliti, pemanfaatan internet dapat digunakan untuk berbagi
ide dan gagasan terhadap orang-orang yang memiliki interest yang sama di bidangnya. Bukan hanya itu saja peneliti juga
dapat menggunakan internet untuk mencari referensi dan sumber-sumber terkait
yang dibutuhkan dalam menyelesaikan penelitian. Menggunakan jurnal atau ebook yang ada di dunia dapat digunakan
dengan maksimal oleh peneliti tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.
Selain itu pemanfaatan TIK juga
dapat digunakan dalam proses belajar mengajar, pada hal ini dalam keterampilan
berbahasa, khususnya ketrampilan membaca. Menurut anawidyas, pemanfaatan TIK
dalam keterampilan berbahasa dapat dikembangkan dengan topik berikut.
|
Aspek
|
Topik
|
|
Menyimak
|
a.
Menangkap Pokok Pikiran
b.
Membedakan Bunyi Distingtif
c. Mengungkap
Kembali Tuturan
|
|
Membaca
|
a. Meningkatkan
Kecepatan Membaca
b.
Menengkap Pokok Pikiran
c. Menemukan
Topik Tulisan
|
|
Berbicara
|
a. Pemroduksian
Tuturan
b.
Keefektifan Kalimat
c. Keruntutan
Gagasan
d.
Ketepatan Artikulasi
|
|
Menulis
|
a. Menulis
Jurnal
b.
Menulis Artikel
c. Menulis
Bersama
d.
Menulis Prosa Fiksi
|
Dengan
mencermati berbagai penelitian tersebut, tampaknya dalam pembelajaran
keterampilan berbahasa para pengajar bahasa perlu melakukan inovasi
pembelajaran dengan memanfaatkan komputer sebagai media pembelajaran.
BAB
III
METODOLOGI PENELITIAN
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Penelitian
ini merupakan penelitian kualitatif deksriptif dengan metode penelitian yang
digunakan adalah metode analisis isi (content
analysis). Analisis isi adalah sebuah metode penelitian yang digunakan
untuk memahami pesan simbolik atau tersirat yang terkandung dari sebuah wacana
atau teks, dalam hal ini adalah novel. Metode analisis isi digunakan dengan
pertimbangan:
a) Kajian
yang dilakukan memerlukan kecermatan dan ketelitian yang tinggi. Karena kajian
yang digunakan adalah sosiologi sastra
b)
Tujuan utama penelitian ini adalah
mendeskripsikan, menganalisa, tema, alur, tokoh/penokohan, latar, maupun kajian
budaya yang terdapat dalam novel.
3.2 Pendekatan Penelitian
Adapun
pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sastra sosiologi. Pendekatan
sosiologis digunakan dengan cara menganalisis struktur instrinsik dan
ekstrinsiknya kemudian menghubungkannya dengan kondisi sosial yang terjadi
dalam masyarakat kemudian mengimplementasikan hasil yang diperoleh dalam
pelajaran membaca karya sastra di SMA.
Pendekatan
sosiologi digunakan dengan alasan mempunyai segi-segi yang bermanfaat dan
berdaya guna tinggi karena peneliti memperhatikan unsur intrinsic yang terdapat
dalam novel dan unsur ekstrinsik
pengarang untuk membangun karya sastra, disamping memperhatikan faktor
sosiologi dan ideologi yang ada dalam masyarakat.
Sehubungan
dengan itu, kajian yang komprehensif dilakukan oleh penulis berkaitan dengan
tema, alur, tokoh atau penokohan, serta latar dalam novel. Berdasarkan kajian
sosiologis, peneliti berusaha menemukan pendeskripsian hegemoni sosial dan
ideologi dalam masyarakat serta mengimplementasikannya dalam pembelajaran karya
sastra di SMA.
3.3 Sumber Data
Data
formal ppenelitian ini berupa kata-kata, frasa, kalimat, atau wacana yang
terdapat dalam novel The Years of The
Voiceless. Sedangkan sumber data yang digunakan adalah data kepustakaan
yaitu berupa buku-buku, artikel, serta beberapa hasil penelitian yang
berhubungan dengan permasalahan yang menjadi objek penelitian.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Langkah yang ditempuh di dalam
proses pengumpulan data, antara lain:
- Pengumpulan data kepustakaan
- Pembacaan secara intensif dan berulang-ulang novel yang akan diteliti
- Membuat catatan yang berupa abstraksi atau pendeskripsian setiap peristiwa yang merupakan unsur cerita dalam novel.
- Mengidentifikasi aspek-aspek yang tercantum dalam tujuan penelitian
- Melakukan analisis dan interpretasi data
3.5 Teknik Analisis Data
Analisis
yang dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan metode analisis isi. Menurut
Phillip Maryingn metode deskriptif kualitatif meliputi:
- Penetapan perumusan masalah penelitian
- Penentuan defenisi kategori dan tingkat abstraksi untuk kategori induktif
- Formulasi langkah demi langkah terhadap data dengan mempertimbangkan definisi kategori, mengurutkan kategori yang ada atau memformulasi kategori baru
- Tevisi kategori sebagai bentuk pengecekan reliabilitas secara formatif dengan memperhatikan pertanyaan penelitian
- Penyelesaian akhir proses pengkategorian debagai bentuk pengecekan realibilitas sumatif
- Intepretasi hasil
3.6 Pemeriksaan Keabsahan Data
Agar
hasil penelitian yang bersifat kualitatif benar-benar dapat dipertanggungjawabkan,
maka peneliti melaksanakan pemeriksaan terhadap keabsahan data secara cermat
sesuai dengan teknik pemeriksaan keabsahan data.
Pemeriksaan keabsahan data yang
dilakukan adalah validasi atau verifikasi yang dikenal dengan istilah
triangulasi. Menurut Creswell[12],
triangulasi dalam penelitian dibutuhkan agar penelitian kreadible dan
pengecekan data dilakukan dari berbagai cara. Dalam penelitian ini peneliti
menggunakan teknik keabsahan data dengan triangulasi:
- Triangulasi Data
Triangulasi
data dilakukan untuk menguji, peneliti menggunakan data lain dari sumber yang
berbeda tetapi memiliki kepadanan.
- Triangulasi Teori
Peneliti
menggunakan triangulasi teori yaitu dengan pendekatan sastra sosiologi dengan
bantuan sumber data berbentuk buku.
- Triangulasi Peneliti
Dalam
hal ini peneliti memanfaatkan jasa peneliti lain dalam pengecekan data. Cara
yang digunakan adalah dengan bentuk diskusi dengan rekan-rekan di bidang
sastra. Selain itu peneliti juga mendapatkan banyak bantuan dan masukan yang
berasak dari dosen pembimbing maupun dosen yang expert dalam bidang sastra.
DAFTAR PUSTAKA
Bahtiar,
Ahmad, Arwinarto. 2013. Metodologi
Penelitian Sastra. Tangerang: PT Pustaka Mandiri Damono, Sapardi Djoko.
2003. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas.
Jakarta: Pusat Pembinaan Bahasa. Departemen pendidikan dan Kebudayaan.
______________________.
1978. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar.
Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Creswell,
W. John. 1988. Reseach Design:
Qualitative And Quantitative Approach. Boston: Sage Publication.
Endraswara,
Suwardi. 2002. Metodologi Penelitian
Sastra: Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: Center for Academic
Publishing Service.
Escarpit,
Robert. 2005. Sosiologi Sastra.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Oemarjati,
Sri Boen. 2006. Kondisi Pengajaran Sastra
di Jenjang Pendidikan Menengah. Jakarta: Susastra Jurmal Ilmu Sastra dan
Budaya.
Phillp,
Marying. Qualitative Content Analysis
Dalam Forum: Qualitative Sosial Research, Vol.1 No.2 Juni 2000
Richard,
Taylor. 1981. Understanding The Element
of Literature. New York: St. Martin’s Press.
Sangidu.
2007. Penelitian Sastra: Pendekatan,
Teori, Metode, Teknik, Dan Kiat. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gajah Mada.
Susanto,
Dwi. 2016. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta:
Center for Academic Publishing Service.
Kennedy,
X. J. 1987. Literature: An Introduction
To Fiction, Poetry, and Drama. Boston: Little Brown and Company
LAMPIRAN
Sinopsis
Novel:
The Years of The Voiceless merupakan kisah kehidupan
dua orang perempuan Sumarni, yang biasa dipanggil Marni dan anaknya, Rahayu.
Marni adalah seorang perempuan pemuja leluhur (animisme) yang ulet untuk meraih
apa yang diinginkannya, karakternya ini mulai terbentuk sejak ia beranjak
remaja. Ketika payudaranya mulai menyembul timbullah keinginan untuk
memiliki Entrok (pakaian dalam perempuan) seperti yang dimiliki oleh teman
sebayanya.
Keinginannya yang sederhana ini menjadi tak masuk akal
karena sebagai keluarga miskin yang tinggal bersama ibunya yang hanya seorang
buruh pengupas singkong membuat Entrok menjadi barang yang mewah dan tak
terbeli. Namun Marni tak menyerah dengan keadaannya. Ia rela menjadi kuli
angkut di pasar agar bisa mendapat uang untuk membeli Entrok.
Akhirnya Marni berhasil membeli sebuah Entrok,
pengalamannya ini membentuk persepsi pada dirinya bahwa sebuah mimpi bisa
diraihnya asal mau berusaha dan bekerja keras. Hal inilah yang membentuknya
menjadi wanita ulet yang tak menyerah bergitu saja pada segala keterbatasannya.
Kisah Marni terus bergulir, ia menikah dan mempunyai seorang anak. Sayangnya
suaminya seorang pemalas, dan doyan bermain perempuan, dengan demikian Marnilah
yang mencari nafkah dan menjadi tulang punggung keluarga. Ia terus bekerja,
mulai dari buruh pengupas singkong, kuli angkut, penjual panci hingga
akhirnya menjadi seorang rentenir yang kaya.
Profesi Marni sebagai seorang rentenir memang
membuatnya menjadi kaya namun ia harus menanggung cemoohan orang yang
mencapnya sebagai lintah darat. Namun Marni tetap bergeming, ia terus
menjalankan usahanya karena menurutnya apa yang dilakukannya tidaklah bersalah
malah justru menolong orang-orang yang membutuhkan uang. Selain itu
kepercayaan Marni yang masih memuja leluhurnya dengan sesajen-sesajen membuat ia dicurigai bersekutu
dengan iblis, melakukan pesugihan, memelihara tuyul agar bisa memperoleh
kekayaan.
Adapun Rahayu dikisahkan sebagai wanita yang cerdas,
berpendidikan dan taat dalam menjalankan ibadah agamanya. Semakin dewasa
ketika menyadari bahwa ibunya seorang rentenir dan pemujaan terhadap leluhur
yang dianggapnya musrik membuat ia memberontak terhadap ibunya sendiri.
Puncaknya adalah ketika ia memutuskan untuk menikah dengan seorang pria
beristri dan pergi meninggalkan ibunya. Semenjak menikah hubungan dengan Rahayu
dan hubungan dengan ibunya menjadi terputus karena ia tak pernah memberi kabar
pada kedua orang tuanya.
Rahayu yang sekarang bukan Rahayu yang dulu. Sekarang
ia pendiam, penurut, dan hanya mau tinggal di rumah. Hidupnya seperti tidak ada
artinya lagi. Ternyata, Rahayu dicap PKI, ia pernah dipenjara. Marni tetap
ingin membahagiakan anaknya. Ia mencari pemuda yang mau menikah dengan anaknya.
Setelah mendapatkan Sutomo, anak tukang andong di dekat pasar, Marni menyiapkan
semua persiapan pernikahan. Namun, tiba sehari sebelum menikah, Sutomo dan
ayahnya datang ke rumah Marni dan meminta pembatalan pernikahannya dengan
Rahayu sebab baru tahu bahwa calon istrinya PKI. Ia tidak mau dan merasa
tertipu. Saat itu juga, Marni seketika menjadi gila. Sementar Rahayu sudah
menerima nasib, bahwa tak ada yang mau dengannya, seorang korban yang
di-PKI-kan dan seorang yang sudah diperkosa polisi saat di penjara.
Dari narasi dua perempuan, Marni dan Rahayu lah kisah
Entrok terbangun dimana kedua tokoh ini menjadi naratornya secara
bergantian. Sebenarnya kisah dalam novel ini sederhana yaitu perjalanan
hidup dua wanita yang penuh perjuangan melawan ketidakadilan dan
kesewenang-wenangan.
[1]
Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian
Sastra: Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi. (Yogyakarta: Center for
Academic Publishing Service, 2002), h. 18.
[2]
Sapardi Djoko Damono. Sosiologi Sastra:
Sebuah Pengantar Ringkas. (Jakarta: Pusat Pembinaan Bahasa. Departemen
pendidikan dan Kebudayaan, 2003), 14.
[6]
Kennedy, X. J. Literature: An
Introduction To Fiction, Poetry, and Drama. (Boston: Little Brown and Company,
1987), h. 45
[7]
Richard Taylor. Understanding The Element
of Literature. (New York: St. Martin’s Press, 1981), h. 47
[9]
Dwi Susanto. Pengantar Kajian Sastra.
(Yogyakarta: Center for Academic Publishing Service, 2016). h. 65.
[10]
Robert Escarpit. Sosiologi Sastra.
(Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005), h. 67.
[11]
Sri Boen Oemarjati. Kondisi Pengajaran
Sastra di Jenjang Pendidikan Menengah. (Jakarta: Susastra Jurnal Ilmu
Sastra dan Budaya, 2006), h. 38.
[12]
John W. Creswell. Reseach Design:
Qualitative And Quantitative Approach. (Boston: Sage Publication, 1988), h.
129.
Komentar
Posting Komentar